Sungai Batang, Museum Hamka, dan Kenangan Soekarno pada Maninjau

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Muhammad Subhan

SIAPA yang pernah menyinggahi Maninjau tentu tak pernah melupakan panorama indah danau berair biru itu. Pemandangan utuh Danau Maninjau dapat disaksikan dari Kelok Ampek Puluah Ampek. Bak lukisan tangan maestro, keindahan alam ciptaan Tuhan itu memberi banyak inspirasi bagi orang-orang yang pernah lahir dan besar di negeri itu.

Indah dan menakjubkan!

Itulah kesan saya setiap kali berkesempatan menyinggahi Maninjau, khususnya dalam perjalanan ke Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang, kampung kelahiran sastrawan dan ulama besar Ranah Minang, Buya Hamka. Jalan berkelok, bukit menghijau, hamparan sawah dengan padi menguning, pedati dengan anak-anak yang tergelak gembira di atasnya, menciptakan senandung alam begitu syahdu. Sungguh, Maninjau sebuah negeri yang menarik dikunjungi.

Dalam buku “Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka”, ulama pejuang itu menulis, “Saya sangat terkesan pada desa kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan yang seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada di balik pemandangan itu …”

Sebab keindahan alam Maninjau pula, sempat menggerakkan tangan mantan Presiden RI, Ir. Soekarno, menulis sebait pantun:

Jika adik memakan pinang
Makanlah dengan sirih hijau
Jika adik datang ke Minang
Jangan lupa singgah ke Maninjau

Pantun Soekarno itu terketik rapi pada selembar kertas putih berbingkai yang digantung pada dinding ruang tengah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang. Tulisan itu berjudul “Kenang-kenangan Hidup”. Bung Karno berucap, “Maninjau yang indah permai”. Dengan danaunya yang dahsyat, dengan sawahnya bersusun, dengan jalannya berkelok, terlukis dalam sanubari Bung Karno sebagai negerinya sendiri.

Nagari Sungai Batang terletak di tepi Danau Maninjau. Danau yang dikelilingi Bukit Barisan itu, laksana telaga biru luas yang sangat indah dipandang mata. Dari jalan Kelok 44 (Minang: Kelok Ampek Puluah Ampek), secara utuh panorama keindahan Danau Maninjau dapat dinikmati. Tak ada yang tak takjub menyaksikan Kemahabesaran Tuhan itu.

Meski kampung itu bernama Sungai Batang, namun Batang bukanlah nama sebuah sungai. Tak ada sungai besar di Maninjau. Danau Maninjau, konon menurut tetua-tetua setempat, dibentuk oleh letusan Gunung Api Sitinjau yang berada di tengah-tengah danau yang meletus sekitar 700-an tahun silam. Gunung api itu kini tak tampak lagi karena telah meletus dan membentuk kawah besar. Itulah asal usul Danau Maninjau. Ketika cuaca berubah, air danau sering ikut berubah, kadang berwarna putih susu, hitam, kuning dan biru. Kadang penduduk sekitar mencium aroma belerang yang dibawa angin dari danau.

Nagari Sungai Batang memiliki luas 17,38 km² dengan batas-batas, sebelah Utara Danau Maninjau dan Batang Maninjau, sebelah Timur Kecamatan Matur dan Malak, sebelah Selatan Nagari Tanjung Sani dan sebelah Barat Danau Maninjau. Masyarakat sekitar Danau Maninjau, mayoritas bermata pencarian sebagai petani, pedagang, dan keramba ikan. Ikan danau namanya “Bada” (semacam ikan bilih/teri), namun masyarakat umumnya beternak ikan Nila dan Gurami yang mereka panen sekali tiga bulan.

Sekarang, suasana di Sungai Batang telah tersentuh modernisasi. Jalan-jalan kampung beraspal hitam, penerangan telah masuk, begitu pula alat-alat telekomunikasi telah dimanfaatkan mayoritas masyarakat di Sungai Batang. Di zaman lampau, untuk ke Padang Panjang, Hamka muda berjalan menembus hutan lebat, mendaki bukit, menuruni lembah. Tidak terbayang susahnya orang dulu.

Yang menarik, bangunan-bangunan rumah penduduk di Sungai Batang Maninjau masih mempertahankan arsitektur rumah-rumah lama layaknya zaman Belanda. Rumah-rumah yang unik dan bernilai khas. Pintu rumah yang lebar dan tinggi, ukiran-ukiran dinding yang indah, berlantai dua, ada yang beton ada pula terbuat dari kayu papan. Semuanya tampak kokoh meski ketuaan usia nyaris melapukkan pesonanya.

Dipugarnya rumah Buya Hamka menjadi Museum Kelahiran Buya Hamka yang diresmikan pada 11 November 2001, bagi masyarakat sekitar, membawa berkah tersendiri. Museum itu pun nyaris tak pernah sepi dari berbagai kunjungan, terutama wisatawan asal Malaysia. Dampaknya, ekonomi masyarakat sekitar pun hidup. Ada masyarakat yang membuka warung, menjual makanan dan minuman, cenderamata, bahkan menjual buku-buku karangan Buya Hamka.

Sekitar tahun 2008 lampau saya pernah bersua Ibu Azizah Rusli yang masih kemenakan Buya Hamka dan Bapak Hanif Rasyid Khatib Rajo Endah yang di masa itu pengelola Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Beliau anak kandung Buya Sutan Mansur (guru pertama Buya Hamka) dengan Umi Fatimah Karim (kakak kandung Buya Hamka).

Ibu Azizah Rusli saat itu melakoni aktivitasnya sebagai penjual buku-buku Hamka, tepat di ruang depan rumahnya yang berhadapan dengan museum Buya Hamka. Meski tak seluruhnya buku-buku Buya Hamka ia koleksi, namun profesi yang ia geluti sejak tahun 2002 itu setidaknya membantu dirinya dan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Beberapa buku yang dipajang Ibu Azizah Rusli pada sebuah etalase berukuran sedang di rumahnya, di antaranya berjudul: Tasawuf Modern, Tafsir Al Azhar, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Falsafah Idiologi Islam, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Dilamun Ombak Masyarakat, Islam dan Demokrasi, Revolusi Adat, Revolusi Islam, dan beberapa judul lainnya. Buku-buku yang dijual berharga variasi, mulai dari Rp40.000,-an hingga ratusan ribu, seperti Tafsir Al Azhar yang berjumlah beberapa jilid. Konon buku-buku itu dititipkan beberapa penerbit.

Karena masih memiliki hubungan kekeluargaan, Ibu Azizah Rusli memandang Buya Hamka sebagai sosok ulama yang cukup berwibawa di kampungnya. Hamka juga seorang yang lembut, penyabar, meski di masa kecil Hamka dikenal banyak orang kampungnya sebagai anak nakal. Setelah ia menjadi ulama, ilmu ayahnya, Inyiak Dr. Abdul Karim Amrullah yang juga seorang ulama besar di Maninjau, seolah diwarisi utuh oleh Hamka.

“Buya HAMKA memang jarang pulang ke kampung. Ia lebih banyak di luar, namun orang kampung banyak menghormatinya,” kenang Ibu Azizah Rusli.

Di rumah Buya Hamka yang sederhana itu, puluhan foto kenangan terpajang di dinding-dinding hampir setiap sudut ruangan, ratusan buku, majalah, dan berbagai arsip tentang Buya Hamka tersimpan rapi dalam lemari kaca. Di ruang tengah rumah itu juga masih menyimpan kursi tua peninggalan orang tua Hamka, Inyiak Dr (baca: de-er), tongkat Buya Hamka (8 buah), baju wisuda ketika Buya Hamka saat menerima anugerah Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), dan sebuah koper tua ketika Buya Hamka pertama kali berangkat haji ke Tanah Suci Makkah.

Di ruang kamar, sebuah tempat tidur dengan kain kelambu berwarna putih masih terlihat kokoh. Di atas kasur tempat tidur itu ada sebuah kertas yang bertuliskan “Tempat Tidur Dr. H. Abdul Karim Amrullah”. Tempat tidur itu dibatasi oleh sebuah tali dengan papan pengumuman di atasnya: “Dilarang Melewati Lintasan”. Artinya, tempat tidur Buya Hamka yang juga tempat pertama kali ia dilahirkan hanya bisa dilihat saja dan tidak boleh disentuh. Tentu, kalau tersentuh, khawatir akan rusak karena tempat tidur itu sudah berusia sangat tua.

Setiap tahunnya, wisatawan yang berkunjung ke Museum Kelahiran Buya Hamka bisa mencapai ribuan orang. Rumah kelahiran Buya Hamka itu dibuka dari pukul 8.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Setiap kali pengunjung yang datang ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Pak Hanif Rasyid selalu berdakwah memberi wejangan, yang tidak lain adalah pesan-pesan Buya Hamka kepada umat. “Buya Hamka meninggalkan empat pesan yang sangat menyentuh bagi orang-orang beriman,” kata Pak Hanif Rasyid kepada saya saat itu.

Keempat pesan tersebut, pertama, orang yang pintar adalah orang yang merasa bodoh. Kedua, orang yang bisa berhubungan dengan yang Maha Suci adalah orang yang mensucikan diri. Ketiga, orang yang berbahagia adalah orang yang tahu kampung halamannya. Dan keempat, ketika rumahku diketuk oleh kemiskinan, aku buka jendela dan aku melompat keluar.

“Pesan-pesanya ini sangat menggugah dan merupakan bekal akhirat bagi umat yang paham jalan hidupnya di dunia,” ujar Hanif Rasyid.

Hamka adalah nama kependekan ulama besar Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia dilahirkan di Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang, Maninjau, Sumatra Barat, pada 13 Muharram 1326 Hijriyah bertepatan tanggal 16 Februari 1908 dari pasangan Dr. Abdul Karim Amrullah dan Syafiyah.

Buya Hamka dalam memoarnya mengatakan, “Ayahku menaruh harapan atas kelahiranku agar aku kelak menjadi orang alim pula seperti ayahnya, neneknya, dan nenek-neneknya terdahulu.” Ketika Hamka lahir, ayahnya mengatakan kepada neneknya bahwa dia akan dikirim ke Mesir agar menjadi ulama kelak setelah berusia sepuluh tahun.

Sepanjang hidupnya Buya Hamka tak henti-hentinya menulis dan berpidato. Profesinya itu telah menghasilkan lebih dari 100 buku, ratusan makalah, esai, dan artikel yang tersebar dalam berbagai media massa. Buya Hamka membangun reputasinya sebagai pengarang yang menulis berbagai hal. Ia juga seorang wartawan dan editor di berbagai majalah, di samping itu menulis cerita pendek dan novel romantis di masa-masa sebelum perang.

Hamka adalah satu di antara pengarang terpintar di luar kalangan kesusasteraan yang resmi seperti ditulis Prof. A Teeaw. Dikatakan demikian karena Hamka tidak bisa dimasukkan sebagai pengarang Angkatan Balai Pustaka. Karya Hamka mulanya muncul dalam majalah Islam, Pedoman Masyarakat, dan cerita bersambung. Karena itu ia dapat disebut sastrawan “berhaluan Islam” dan menjadikan kesusateraan sebagai alat dakwah.

Dalam usia 16 tahun Hamka telah merantau ke Jawa. Alasannya karena kakak perempuannya, Fatimah Karim Amrullah, ikut suaminya Buya A.R. St. Mansyur berdagang batik di Pekalongan. Di sini, ia benar-benar menunjukkan minat belajar yang dipimpin oleh adik ayahnya, Jafar Amrullah yang menuntut ilmu di Jogya.

Dasar-dasar pengetahuan agama yang telah diperoleh di kampung, dimanfaatkan HAMKA untuk memahami ceramah-ceramah Ki Bagus Hadikusumo tentang tafsir Al-Qur’an di Kampung Kauman, Yogyakarta.

Di samping itu, Hamka mengikuti kursus politik yang diberikan oleh tokoh-tokoh Serikat Islam, seperti H.O.S. Tjokroaminoto. Sehingga ia dapat memahami gagasan-gagasan sosialisme dalam masyarakat Islam. Dengan R.M. Suryo Pranoto ia mendapatkan pelajaran sosiologi dan dengan H. Fakhruddin, Ketua Muhammadiyah yang juga menjadi bendaharawan SI ketika itu, ia mendapatkan wawasan keislaman yang lebih baik dari apa yang diperolehnya di kampung. Ketika itu, komunis sedang menyebarkan pahamnya di Minangkabau, sehingga ia mudah dapat mengetahui perubahan-perubahan politik yang sedang terjadi.

Dia menyaksikan tumbuhnya pertentangan-pertentangan antara golongan Islam, Marxis, dan Nasionalis Sekuler dan telah menetapkan arahnya sendiri dengan hanya berjuang atas dasar keislaman. Dengan bekal itu ia berangkat ke Pekalongan belajar tentang Tauhid dan keislaman lebih mendalam, sehingga tumbuhlah pribadi muslim yang kuat pada dirinya.

Sebagai sastrawan, dalam karyanya Buya Hamka banyak memberikan kritik terhadap pelaksanaan adat Minangkabau yang tidak sesuai dengan agama. Beberapa di antara karya sastranya adalah: Si Sabariah (roman yang dicetak dengan huruf arab berbahasa Minangkabau), Laila Majnun, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Merantau ke Deli, Mati Mengandung Malu (terjemahan dari Manfaluthi), Terusir, Margaretha Gauthier, Tuan Direktur, Dijemput Mamaknya, Menunggu Bedug Berbunyi, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Empat Bulan di Amerika, Mengembara di Lembah Nil dan di Tepi Sungai Dajlah Lam.

Buya Hamka, di Sungai Batang kampung halamannya, adalah sosok yang biasa-biasa saja bagi masyarakat sekitar. Namun, semua orang tahu, bahwa Buya Hamka besar di rantau karena pemikirannya yang ingin maju dan berontak dari kemiskinan, mengkritisi adat yang kaku dan polemik keagamaan yang ketika itu menjadi konsumen publik yang sedang mencari jati diri hidup di zaman usai kemerdekaan.

Segi yang amat menarik tentang Buya Hamka, baik di kampung halamannya maupun di rantau, ialah kepribadian dan gaya hidupnya. Beliau ramah, rendah hati, murah senyum, dan menyenangkan dalam percakapan perjamuan. Semua orang mengakui.

Bergaul dengan Buya Hamka—bagi orang-orang yang pernah hidup sezaman dengannya—adalah suatu pengalaman yang sangat mengesankan. Tidak sedikitpun terasa ketinggian hati atau keangkuhan. Wajah Hamka yang teduh, seteduh dan sedamai kampung halamannya, Maninjau yang permai. (*)

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca