Sajak-sajak Kunni Masrohanti

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Kunni Masrohanti, seniman, sastrawan, budayawan, perempuan aktivis, dan founder Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting, Ketua Wanita Penulis Indonesia Riau (2018—sekarang). Ketua Penyair Perempuan Indonesia (2018—sekarang). Buku-bukunya antara lain Sunting (2011), Perempuan Bulan (2016), Calung Penyukat (2019), Kotau (2020), Dan Perempuan yang Kau Telan Airmatanya (2021), puluhan antologi puisi (2011—sekarang), Harmonisasi Masyarakat Alam Rimbang Baling (2018), Sekelumit Sejarah Kerajaan Gunung Sahilan (2018), dan Cipang Warisan Leluhur yang Nyata (2019). Menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Anugerah Sagang 2019 sebagai budayawan, Anugerah Kemendikbudristek Indonesia melalui Balai Bahasa Provinsi Riau (2020) sebagai sastrawan. Anugerah kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau (2021) sebagai Tokoh Budaya kategori Pelaku Setia, Penerima Anugerah Sagang 2015 bersama Komunitas Seni Rumah Sunting (2015), Anugerah Baiduri dari Perempuan Riau Bangkit Foundation (PRBF) tahun 2015, dan Anugerah kebudayaan Pemprov Riau Tahun 2014 kategori Pemangku Seni Tradisi.

AJARI AKU BADUY

Ini bukan soal a, b, alif atau ba, tapi ini soal kita yang sama-sama tak boleh berdurja.
Sebab kita tinggal di rumah yang sama

Ini bukan soal kau di sini, aku di sana, mereka entah di mana, tapi ini soal kita yang sama-sama berjari lima, berhati rimba

Sedalam ini kau tinggal, baru ini ingin ku tanggal. Musim yang janggal.
Kau adalah waktu yang membuat denyut nadiku tak kenal gagal
Terima kasih kau kirim jua rindu yang segar ke Batang Gangsal

Sejauh ini kau melangkah, naik turun lembah, menapak tanpa alas, batu-batu yang cadas
Ingin terbalas, menemuimu lepas-lepas. Maaf, menungguku mungkin kau sudah malas

Bisa ku ulik abc menjadi kata, bisa ķurangkai alif, ba, ta menjadi doa, tapi aku buta membacamu. Alpa

Ajari aku Baduy
Kenalkan padaku yang lebih rimba dari rimba ini
Bacakan padaku apa yang tak bisa kau eja
Ini, itu, apa, mana, siapa,
Ajarkan aku Baduy apa yang kau diamkan, yang sejak tadi kau bungkamkan
Katakan padaku mengapa kapas jua yang kau pintal menjadi benang, mengapa benang yang kau tenun, mengapa kain kau lipat di pinggang kiri, siapa yang menyorak tinggalmu di tanah ini

Katakan padaku
Ajarkan aku, jadikan aku Baduy

Banten, Juli 023

KEBAYA HITAM DAN KAIN SAMPING YANG BERTANDA

Aduhai,
Manisnya engkau yang duduk di teras rumah, berkebaya hitam dengan dada sedikit terbuka, berkain batik samping biru tua
Kau memberi tanda, kerling mata jangan dicoba, lirik-lirik harus di tahan, serupa tanah sudah bertuan

Engkau yang duduk di teras rumah, sanggul tinggi berkulit putih, senyum serupa arit, alis serupa alis, suara halus, pipi nan mulus, bijak menyapa, pandai berkata-kata
Ah, engkau masih sangat muda, anggun memberi tanda, menggoda-goda jangan dicoba

Kebaya hitam kain samping biru tua
Tanda-tanda harus dibaca

Banten, Juli 2023

KOJA ITU KUBAWA PULANG SAMPAI KE TANAH REDANG

Yang kubaca adalah diksi kedamaian pada kulit kayu terap yang tersandang di bahumu, saban waktu
Dan kau tahu, rumah para semut itu takkan habis di tanganmu, di tanah lahir hidup matimu

Aku menghafal diksi-diksi damai itu, membawanya pulang ke rumahku, ke tanahku, redang yang hilang terap, terbakar atau habis dibabat, koja menempel di dinding kesumat

Diksi damai tidak kutemukan di tanah hidup matiku
Di sini, segala rumah adalah batu, tapi tak sebatang terap menunggu

Sudah kubawa pulang koja ke jantung redang yang garang. Gersang
Sebagai pengingat ia adalah wujud jalan pulang

Pekanbaru, Agustus 2023

SOSORO, KU TENUN KITA DARI GAJEBOH HINGGA SUNGAI JANTAN

Raraga, kau tenun jua rasa bangga dari senja ke senja di teras rumah yang luas

Tanganmu duhai Sansana, halus lunglai membentur bambu dengan bilah-bilah kayu kau selip benang-benang ketekunan sejak dulu, saat mungil jarimu hingga si kecil bergayut di pundakmu

Sosoro
Kita tenun malu dalam diri dari Kampung Cibeo tempatmu, sepanjang jalan hingga Gajeboh yang syahdu, sampai tepian Sungai Jantan tanahku yang rindu

Ku tenun diam pada agung sikukeluang, tampuk manggis, awan berarak atau pucuk rebung
Kau tenun tekun dalam anggun tajur pinang, adu mancung, suat kembang gedang, suat samata, suat balingbingan, sarung poleng kacang herang carang bagi lelaki, sarung kacang herang kerep bagi perempuan dan suat mata baru

Hai Sansana,
Hanya engkau penenun masa
Bukan lelaki yang berlaku serupa engkau jika melakukannya
Tenunlah mimpimu menjadi rupa-rupa cinta

Pekanbaru, Agustus 2023

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca