Berapa Luas Tanah yang Dibutuhkan Seorang Manusia?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Muhammad Subhan

LAYAKNYA air, tanah juga sumber kehidupan. Tanpa tanah, tidak ada tempat makhluk berpijak. Di atas tanah manusia mendirikan bangunan (rumah) sebagai tempat tinggal. Di tanah manusia bercocok tanam; padi, palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, yang semuanya dikonsumsi manusia. Tanah menyuburkan tanaman. Manusia dan tanaman bergantung pada tanah.

Di tanah juga ditemukan bermacam barang tambang; emas, perak, biji besi, batu bara, gas, minyak bumi, dan lainnya. Segala macam yang dikeluarkan tanah memberi manfaat bagi manusia. Tak hanya tumbuh-tumbuhan, bermacam hewan pun hidup di dalam tanah. Cacing tanah misalnya, meski tanpa pancaindra yang sempurna namun ia leluasa hidup di dalam tanah. Sebab di sanalah habitatnya. Begitu pun semut dan sejumlah hewan lainnya yang berkembang biak dan bergantung hidup pada tanah.

Meski memberi manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia, tanah juga kadang membawa malapetaka. Tanah longsor misalnya. Maka manusia dilarang tinggal di pinggiran tebing, di kaki bukit yang rawan, maupun di tanah-tanah ketinggian yang berpotensi terjadinya longsor. Di kota-kota besar yang juga terdapat perbukitan, tidak jarang manusia membangun rumah di bibir bukit. Itu mereka lakukan karena lahan di perkotaan semakin menyempit akibat padatnya pembangunan, sehingga sebagian manusia kurang beruntung harus membangun peradaban di daerah pinggiran, khususnya di perbukitan itu. Bukit-bukit yang seharusnya tumbuh subur pepohonan, malah pohon ditebang dan kawasan itu dijadikan lahan pemukiman. Ketika hujan turun terjadilah banjir dan tanah longsor karena air tidak lagi diserap oleh tanah dan akar tumbuh-tumbuhan.

Akibat tanah longsor itu tidak sedikit korban jiwa manusia direnggutnya. Tanah longsor pun merusak rumah-rumah yang dibangun manusia. Tapi itu terjadi akibat kesalahan manusia sendiri karena tidak lagi menjaga keseimbangan alam. Tanah yang seharusnya menjadi sumber kesuburan malah menjadi sumber bencana.

Hakikatnya, tanah diciptakan Tuhan adalah untuk menghidupkan dan menyuburkan. Bahkan, menurut Kitab Suci, asal mula manusia diciptakan dari tanah yang ditiupkan roh kepadanya. Malaikat yang diciptakan Tuhan dari nur (cahaya) hormat kepada manusia (Adam a.s), sementara Iblis yang diciptakan dari unsur api mengingkari kemuliaan Adam dan mendurhakai Tuhan.

Besarnya manfaat tanah bagi kehidupan manusia itu membuat manusia berlomba-lomba mendapatkan tanah sebagai sumber kehidupannya. Sejak dahulu, secara turun-temurun, manusia mewariskan tanah dengan luas tertentu kepada anak-keturunan mereka. Tanah itu bisa berupa lahan pertanian, perkebunan, hutan, maupun lahan yang di atasnya berdiri rumah keluarga. Di Minangkabau, dikenal tanah ulayat yang dimiliki oleh kaum tertentu dan tidak sembarang orang bisa memperjualbelikannya.

Meski tanah banyak memberi manfaat bagi manusia, namun tidak sedikit gara-gara tanah orang saling bersengketa. Sedikit saja batas tanah yang diklaim sebagai hak milik diganggu, alamat golok bicara. Berbagai kasus sengketa tanah di pengadilan juga terbilang tinggi. Berita-berita terkait kasus itu pun nyaris setiap waktu menghiasi media massa.

Berkaitan dengan tanah ini, saya teringat cerita yang dutulis Leo Tolstoy, penulis asal Rusia, yang mempertanyakan berapa luaskah tanah yang dibutuhkan seorang manusia?

Diceritakan bahwa ada seorang petani tamak yang tidak pernah puas dengan tanah yang dimilikinya. Dia selalu merasa kurang.

Suatu hari si petani ini bertemu seseorang yang mau menjual murah tanahnya seluas apa pun yang diinginkan si petani. Namun demikian ada syaratnya, petani ini harus berjalan mengitari tanah yang dia mau, dari pagi hingga petang dan harus kembali ke titik awal sebelum matahari tenggelam.

Didesak oleh hasrat ketamakannya itu si petani setuju untuk membeli tanah luas sejauh matanya memandang dengan cara berlari dari pagi hingga petang. Dia terus berlari tanpa kenal lelah untuk mendapatkan tanah yang dia inginkan. Batu sandungan, onak, dan duri yang menyentuh kakinya tidak dia pedulikan. Hingga menjelang petang, petani ini pun sampai ke titik awal dia berjalan dan tanah yang luas itu pun menjadi miliknya.

Namun nahasnya, karena kelelahan dan sekujur tubuh penuh luka, petani itu akhirnya meninggal dunia setelah semua tanah itu dia dapatkan. Orang ramai yang melihat perjuangan si petani menundukkan kepala dan menurunkan topi sembari bergumam, “Seluas apa pun tanah yang dicari manusia namun hanya sepanjang tubuh saja yang ia butuhkan”.

Begitulah, sejatinya tak banyak tanah dibutuhkan manusia. Hanya seukuran badannya saja. Dan, hakikatnya manusia diciptakan dari tanah, kelak akan kembali pula kepada tanah. (*)

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca