Teliti Tradisi “Peugah Haba” di Aceh, Alumni Kuflet Afifuddin Raih Gelar Doktor Seni di ISI Surakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

SOLO, majalahelipsis.com—Alumni Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Teuku Afifuddin, S.Sn, M.Sn., meraih gelar doktor atas disertasi bertajuk “Perubahan Bentuk Peugah Haba dari Tradisi Lisan ke Pertunjukan”.

Ujian terbuka digelar di ruang seminar gedung Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Selasa (25/6/ 2024), dari pukul 10.00 WIB sampai 13.00 WIB. Afid merupakan lulusan ke-123 dari Pascasarjana ISI Surakarta.

Penelitian yang ditulisnya mengkaji perubahan bentuk tradisi lisan peugah haba di masyarakat Aceh khususnya Aceh bagian Barat dan Selatan. Peugah haba berubah bentuk dari tradisi lisan menjadi pertunjukan teater modern.

Perubahan ini dipelopori tokoh seni Mak Lapee asal Manggeng dan diteruskan muridnya Teungku Adnan PMTOH dan Agus Nur Amal (murid dari Teungku Adnan PMTOH). Disertasinya menyoroti bagaimana penciptaan teater Indonesia, khususnya di Aceh, terjadi berdasarkan pengaruh lokal tanpa dominasi pengaruh teater Barat.

Pertunjukan “Peugah Haba” tercipta dari bentuk tradisi lisan menjadi bentuk teater di Indonesia menjadikan peugah haba dari pertunjukan lokal mampu menembus global.

Proses perubahan ini tidak hanya menyangkut aspek artistik dari hasil pembaruan yang dalam masyarakat Aceh disebut seubaro, tetapi juga membawa implikasi konseptual yang penting dalam memahami dan mengembangkan teater Indonesia berbasis lokalitas.

Dalam ujian tersebut, Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn. selaku promotor mengatakan bahwa “Kita selama ini sangat sulit melacak jejak seni pertunjukan teater di Aceh. Novelty dari penelitian ini menjadi palang pintu untuk membuka lorong kecil dalam menemukan upaya bagaimana kesenian Aceh itu berkembang. Dari titik hanya sekadar mitos (Dangdeuria) yang oleh Mak Lapee menjadi realitas yang dipanggungkan. Kebaruan hasil penelitian ini menjadi peta jalan bagi penelitian teater berikutnya di Aceh,” tegasnya.

Bentuk pertunjukan “Peugah Haba” hasil perubahan tradisi lisan “Peugah Haba” yang dilakukan Mak Lapee kemudian dianalis menggunakan perspektif masyarakat Aceh terhadap kesenian dan olahraga. Masyarakat Aceh menyebut “meu’en” untuk kegiatan kesenian dan olahraga seperti meu’en seudati, meu’en rapa’i, meu’en saman, meu’en bhan (sepakbola). Perspektif ini kemudian dirumuskan menjadi sebuah konsep oleh Afid untuk melihat bentuk kesenian di Aceh terutama Peugah Haba.

Konsep meu’en dalam disertasi ini memiliki unsur-unsur yaitu; awak meu’en (pemain/penyaji), meuneu’en (mainan/yang dimainkan/konten), peumeu’en (cara/metode memainkan), alat meu’en (peralatan main), panteu (tempat bermain), tereutib meu’en (urutan/alur bermain). Konsep Meu’en tidak hanya cocok untuk menganalisis bentuk Peugah Haba, tapi untuk kesejian lain di Aceh, bahkan untuk daerah lain, namun butuh penyesuai bahasa saja.

Afid menjadi doktor teater pertama untuk Prodi Teater ISBI Aceh dan alumni Komunitas Seni Kuflet bergelar Doktor Seni.

Hadir dalam acara tersebut Dr. Marwan, WR II ISBI Aceh mewakili Rektor ISBI Aceh yang berhalangan karena harus membuka acara Peksimida Aceh di ISBI Aceh. Selain itu hadir juga ketua Yayasan Masyarakat Aceh Surakarta, Adi Fa, beserta masyarakat Aceh yang ada di Surakarta.

Momen ini juga disajikan kuliner Aceh seperti Kuah Beulangong dan timphan asoe kaya sebagai salah satu upaya promosi budaya Aceh.

Ketika ditanya oleh salah satu penguji apa yang akan dilakukan setelah ini dari hasil penelitian perubahan bentuk “Peugah Haba”, dengan mantap Afifuddin menjawab, “Jika Mak lapee memindahkan Peugah Haba dari ruang intim di masyarakat ke realitas panggung, maka saya ingin ke depan peugah haba menjadi realitas di dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Peugah haba menjadi ilmu untuk menata tatanan berkehidupan masyarakat modern hari ini.”

Saat sidang akan di-skorsing untuk menghitung nilai, Teuku Afifuddin diminta pimpinan sidang mempertunjukan “Peugah Haba” yang terbaru sebagai bukti bahwa Promovendus benar-benar menguasai objek penelitiannya. Afid kemudian menyampaikan ucapan terima kasih dalam bentuk “peugah haba” meunggunakan ca’e (irama) dan tuto (tutur) yang kemudian disambut dengan hal yang sama oleh ketua penguji yang men-skorsing sidang dengan bentuk peugah haba tapi dengan irama Jawa. Ini kali pertama ujian terbuka disertasi yang berbeda dari yang pernah ada, karena ada penggalan pertunjukan.

Promotor : Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn.
Ko Promotor : Prof. Sarwanto, S.Kar., M.Hum.
Penguji Ahli : Dr. Sulaiman, M.Sn. (Dosen ISI Padang Panjang dan Ketua MAA Perwakilan Provinsi Sumatera Barat (*/aan)

Editor: Muhammad Subhan

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca