“Sudah, Bang, Keluarlah, Air Sudah Deras!”

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Laporan Bidayatun Nisa

TERIAKAN Ida malam itu menjadi sinyal agar tetangganya yang masih berada di dalam sebuah warung segera keluar dan menyelamatkan diri mereka. Pasalnya, air galodo yang berhulu di Gunung Singgalang menghondoh tiba-tiba dan semua terjadi begitu cepat.

Ida salah seorang warga Jorong Pagu-Pagu, Nagari Pandaisikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Ia turut merasakan betapa dahsyatnya banjir bandang yang terjadi Sabtu, 11 Mei 2024, malam itu.

“Suasana mencekam. Kami panik. Galodo tiba,” ujar Ida mengungkapkan kecemasannya.

Warga yang berada di dalam warung yang ia teriakkan masih saja membereskan isi warungnya, seolah tidak mendengar peringatan Ida. Air sudah naik setinggi lutut.

Sekejap, banjir bandang telah menyampu Jorong Pagu-Pagu. Tanpa aba-aba. Beberapa rumah warga rata dengan tanah, termasuk satu keluarga tersebut yang ikut tersapu oleh galodo karena masih berada dalam rumah.

“Keluarga itu terdiri dari enam anggota keluarga, empat jenazah sudah ditemukan, 1 jenazah lagi belum ditemukan hingga saat ini,” cerita Ida.

Ida masih mengingat suara gemuruh galodo yang datang malam itu. Suara bersumber dari hempasan batu-batu besar dan gelondongan gayu yang turun dari puncang Singgalang.

“Warga yang mengetahui air sudah naik mulai mengungsi ke tempat yang jauh dari sungai, dan ada yang mengungsi ke masjid,” ujar Ida.

Seperti halnya dialami Ida, warga Jorong Pagu-Pagu lainnya, Masmi, juga masih sangat trauma atas peristiwa itu. Malam itu ia sudah berfirasat kalau ada sesuatu yang akan terjadi.

“Malam itu saya merasakan firasat tidak enak, ditambah saya juga dekat dengan keluarga di warung itu. Besoknya saya datang ke tempat kejadian, saya menangis melihat rumah mereka sudah rata dengan tanah dan satu keluarga meninggal dunia. Saya melihat kiamat kecil,” ujar Masmi dengan bola mata berkaca-kaca.

Masmi kini masih merasakan trauma mendalam bahkan khawatir setiap kali hujan deras datang. Dia berharap bencana tak berulang lagi di Jorong Pagu-Pagu dan warga dapat menjalani kehidupan mereka seperti biasa. (*)

Editor: Muhammad Subhan

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca