Sekeping “Tanah Surga” yang Rawan Bencana di Barat Sumatra

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Mukhtar Yaser, S.Si.

SUNGGUH nestapa. Tak lama pasca hari raya, Sumatra Barat kembali berduka. Lagi-lagi Bumi Minang ditimpa bencana. Tak cuma gempa, erupsi gunung Marapi dan longsor yang sudah sering terjadi. Namun, kali ini juga berupa banjir lahar dingin yang menyapu semua yang dilaluinya, termasuk manusia. Merenggut puluhan nyawa, menghilangkan sekian banyak warga, ratusan lainnya luka-luka, tak sedikit pula kehilangan tempat tinggal.

Entah Bumi yang sudah makin tua atau memang kita yang sudah mati rasa. Saat maksiat makin merajalela, tetapi para pemimpin dan niniak mamak serta alim ulama tak bisa berbuat apa-apa, maka saat itulah “alam takambang jadi guru” yang bicara. Tentu saja atas perintah Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta, Yang Maha Memberi Nikmat dan Maha Menyiksa.

Adapun soal siksa, tak usah ditanya seberapa pedih siksa-Nya. Jangankan di neraka, di dunia saja sekeping tanah surga porak poranda dibuat-Nya.

Namun, siapalah kita, hanya makhluk-Nya yang tak berdaya dan sering tak bersyukur atas nikmat-Nya. Kita cuma makhluk yang amat kecil jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya yang diizinkan tinggal di Bumi Allah dengan lautan luas yang seketika bisa berubah menjadi buas atas izin-Nya, dengan gunung-gunung berapi yang siap memuntahkan lahar panas dan lahar dinginnya, lengkap dengan batu-batu besar yang dikirim dengan hujan deras dan tanah longsornya.

Di bawah kolong langit yang sanggup menumpahkan hujan lengkap dengan petir dan badainya. Semua tunduk dan patuh kepada-Nya.

Namun, kita makhluk kecil bernama manusia sering lalai dan tak patuh bahkan membangkang kepada-Nya, maka makhluk-makhluk besar inilah yang ditugaskan untuk menegur dan mengingatkan kita bahwa kita diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.

Jika kita patuh dan taat pada perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, maka yang kita dapatkan adalah cinta dan rida-Nya, di akhirat nanti Dia tempatkan kita di surga-Nya.

Namun, jika kita ingkar, kufur dan membangkang pada-Nya, jangankan mengerjakan perintah-Nya, kita bahkan tak takut apalagi segan berbuat maksiat dan melakukan hal-hal yang dilarang di Bumi-Nya, di bawah kolong langit-Nya.

Dialah Allah Swt., Tuhan kita dan Tuhan alam semesta beserta semua isinya. Kita adalah milik-Nya dan kita akan kembali kepada-Nya. Maka, bawalah bekal terbaik untuk menghadap-Nya.

Harta dan tahta tiada berguna, kecuali jika digunakan untuk menolong agama-Nya. Membantu sesama makhluk-Nya. Jangan sombong, karena itu adalah selendang-Nya. Jangan silau dan terlena dengan dunia, karena dunia sementara, akhirat selamanya.

Jangan pula beribadah selain kepada-Nya dan jangan pula selain untuk-Nya, karena hanya Dia-lah satu-satunya Dzat yang pantas diibadahi dan hanya kepada-Nyalah kita berharap pahala.

Lekas sembuh Ranah Minang tercinta, suka, dan duka kita lalui bersama. Semoga semua korban jiwa Allah ampuni dosa-dosanya dan Allah tempatkan di tempat yang layak disisi-Nya. Adapun kita, semoga bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk menapaki kehidupan yang lebih baik di masa depan. (*)

Sunua, 15 Mei 2024

Mukhtar Yaser, S.Si.
Peminat masalah sosial dan keagamaan, berdomisili di Sunua, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca