Refleksi Haji untuk Mencapai Kesempurnaan Iman dan Keikhlasan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Kamilatud Diniyah, M.Th.I.

HAJI, salah satu dari lima rukun Islam merupakan ibadah yang wajib dilakukan setiap muslim yang mampu secara fisik, mental, dan finansial, setidaknya sekali seumur hidup. Melalui perjalanan spiritual yang mendalam ini, jutaan muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Makkah untuk melaksanakan serangkaian ritual yang telah ditetapkan Nabi Muhammad s.a.w. Namun, di balik serangkaian ritual ini, terdapat makna dan refleksi mendalam yang dapat memperkaya keimanan dan keikhlasan setiap individu.

Perjalanan haji dimulai dari niat yang tulus. Niat ini bukan sekadar ucapan, tetapi manifestasi dari keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan menjalankan perintah-Nya dengan penuh keikhlasan. Perjalanan ini menuntut kesabaran, ketabahan, dan kekuatan fisik serta mental, karena tantangan yang dihadapi tidaklah ringan.

Salah satu ritual penting adalah tawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Ka’bah, sebagai pusat kiblat umat Islam, menjadi simbol kesatuan dan persaudaraan. Dengan mengelilingi Ka’bah, setiap muslim diingatkan akan pentingnya memusatkan hidup mereka hanya kepada Allah Swt. Tawaf juga mencerminkan kehidupan manusia yang berputar dan berpusar, dengan Allah sebagai pusat dari segala kegiatan dan tujuan hidup.

Dalam manasik haji, hal yang paling utama adalah wukuf. Sebagai intisari ibadah yang tidak bisa diwakilkan. Dalam mempersiapkannya tidak hanya fisik tetapi juga mental spiritual juga kejiwaan dalam menghadapi berbagai permasalahan di lapangan.

Wukuf di Arafah sebagai puncak dari ibadah haji, di mana para jamaah berkumpul pada tanggal 9 Dzulhijjah di padang Arafah untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah Swt. Wukuf ini merupakan momen kontemplatif yang sangat mendalam, di mana setiap jamaah berkesempatan untuk merenungi dosa-dosa mereka dan memohon pengampunan. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Haji itu adalah Arafah.” Artinya, tanpa wukuf di Arafah, haji seseorang dianggap tidak sah

Sebuah Perjalanan yang Terus Berlanjut

Setelah kembali dari Tanah Suci, refleksi dari ibadah haji tidak berhenti begitu saja. Setiap jamaah membawa pulang pelajaran dan pengalaman berharga yang diharapkan akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan positif dalam perilaku, sikap, dan cara pandang terhadap hidup dan ibadah adalah salah satu tujuan utama dari ibadah haji.

Haji mengajarkan keikhlasan yang sejati dalam beribadah. Keikhlasan ini tidak hanya tercermin dalam niat awal saat berangkat haji, tetapi juga dalam setiap tindakan setelah kembali ke tanah air. Menjaga keikhlasan dalam setiap amal perbuatan adalah tantangan yang harus dihadapi, namun dengan refleksi dari pengalaman haji, setiap muslim diharapkan mampu menjalani hidup dengan lebih tulus dan penuh keikhlasan.

Kesabaran juga merupakan pelajaran utama yang didapatkan dari haji. Tantangan fisik dan mental selama melaksanakan ibadah haji mengajarkan pentingnya sabar dalam menghadapi segala cobaan. Kesabaran ini harus terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan sesama manusia maupun dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

Hari-hari pelaksanaan ibadah haji yang telah dilalui seorang hamba Allah tak lantas berhenti di sana. Jiwa dirinya harus tetap merefleksikan nilai-nilai yang telah didapat dan dihayati di tanah suci. Sifat-sifat Nabi Ibrahim as yang senantiasa menjaga ketauhidan, kesabaran Siti Hajar dan sifat tawakal Nabi Ismail, menjadi suatu hikmah tersendiri yang bisa diterapkan di dunia sehari-hari.

Setiap manusia ada sifat-sifat Nabi Adam. Melakukan kesalahan dan bertaubat, tunduk hikmad memohon rahmat Allah di padang Arafah. Setiap manusia adalah Ibrahim yang memiliki sesuatu yang harus rela untuk dikurbankan untuk menjalani ketaatan pada Allah.

Haji memang wajib bagi yang mampu. Akan tetapi untuk menyempurnakan rukun Islam yang ke-5 ini, manusia bisa memperjuangkan termasuk siap melakukan pengorbanan-pengorbanan duniawi untuk menggapai rida Allah Swt. (*)

Penulis merupakan Penyuluh Agama Islam di Kementerian Agama Kota Mojokerto, pengasuh PP Manarul Huda, tinggal di Kota Mojokerto.

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca