Pramuka dan Upaya Membentuk Karakter Siswa di Sekolah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Muhammad Subhan

TAHUN 2011 saya sudah menyiapkan naskah novel berjudul Cinta Regu Badak, tetapi novel itu hingga kini belum rampung juga. Setelah novel Rinai Kabut Singgalang yang lebih dulu terbit di tahun sama, saya malah lebih dulu menyelesaikan novel Rumah di Tengah Sawah yang pada tahun 2017 terpilih di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) di Bali dan kemudian diterbitkan Balai Pustaka (2022).

Kelemahan saya, tidak bisa terburu-buru menulis (novel). Cinta Regu Badak yang berkisah tentang petualangan anak-anak Pramuka di zaman saya SMP, di Aceh, memberi kesan mendalam yang membekas hingga kini. Banyak kenangan suka, duka, kasih, dan segala keluh kesah mewarnai novel itu dan setiap kali peringatan Hari Pramuka saya hanya mampu menuntaskan beberapa halaman saja. Banyak hal yang ingin dijemput ke belakang, banyak hal ingin dituliskan. Novel itu barangkali akan tebal melebihi “Rumah di Tengah Sawah” atau “Rinai Kabut Singgalang”. Itu pun kalau tuntas.

Seorang kawan yang ahli desain grafis di tahun itu menawarkan membikin sampulnya. Ia memberi beberapa alternatif sampul. Sebagai pendorong semangat, saya terima tawaran kawan itu, meski tentu saja, sebelumnya, saya sampaikan bahwa sampul itu belum final. Suatu hari nanti akan saya serahkan naskahnya ke penerbit, dan nasib novel itu, bersama sampulnya, biarlah menemukan takdirnya sendiri. Namun, atas inisiatif kawan yang baik itu, saya ucapkan terima kasih.

Pramuka sangat berjasa besar dalam hidup saya. Kalau bukan karena Pramuka, saya tetap menjadi seorang introvert akut, pendiam, penakut, pemalu, dan tidak pernah berani tampil di atas panggung. Gara-gara Pramuka, semua ketakutan-ketakutan saya enyahkan. Apalagi di zaman itu saya berlatar belakang kedua orangtua kurang mampu yang bersekolah dengan segala kekurangan sehingga minder bertemu teman-teman sebaya yang orangtua mereka berekonomi lebih mapan.

Pramuka mendobrak dan menggembleng mental saya untuk menjadi sosok pemberani, kritis, berjiwa pemimpin, sehingga di masa sekolah itu saya mendapat amanah menjadi wakil ketua regu, pimpinan regu, pengurus OSIS, wakil ketua kelas, ketua kelas, hingga pemimpin redaksi majalah dinding (mading).

Saya berterima kasih kepada kakak-kakak senior Pramuka di sekolah kami, baik kakak kelas maupun mereka para alumni. Senior-senior itu melatih kedisiplinan, selalu mengatakan pentingnya menghargai waktu, dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Satu hal paling penting, para senior itu tak jarang mengingatkan agar kami pandai-pandai mengucapkan kata terima kasih. Jangan berat lidah menyebut terima kasih, sebagai bentuk penghargaan, pada apa pun yang didapatkan, atau diberi oleh orang lain.

Selain kakak senior, saya juga sangat dekat dengan seorang pembina Pramuka sekaligus staf Tata Usaha (TU) di sekolah kami. Namanya Pak Agus. Saat itu ia belum menikah meski usianya sudah tidak muda lagi. Saya sering diberi tugas membuatkan daftar nama guru di papan besar yang akan dipajang di ruang guru. Beliau baik sekali kepada saya. Bahkan, ketika tamat SMP beliau yang memberikan sedikit uang agar saya mendaftar di SMA, karena saya hampir putus sekolah karena orangtua tak punya biaya. Zaman itu zaman sulit, apalagi Aceh sedang berkonflik.

Di hari pertama masuk Pramuka di sesi perkenalan anggota baru, saya digembleng oleh senior bernama Kak Rudi. Kak Rudi alumni SMP kami. Dia orang Medan. Suaranya besar bila berteriak. Badannya tegap dan berisi. Matanya tajam. Kami semua segan kepadanya. Dialah yang menyebutkan bahwa regu Pramuka laki-laki adalah Regu Badak dan perempuan Regu Padi. Nomor Gugus Depan (Gudep) Pramuka kami B. 073—074. Dalam barisan satu regu berjumlah 10 orang. Urutan barisannya yang paling tinggi di depan. Saat itu tubuh saya kurus jangkung. Seorang teman, Andi namanya, juga jangkung. Saya dan dia bergantian berdiri di barisan paling depan. Sementara anggota regu paling belakang bernama Said. Tubuhnya kecil dan pendek. Tapi ia paling ceria dan suka tertawa. Regu kami dipimpin Yudha, dan sesekali saya menggantikannya sebagai wakil pinru (pimpinan regu).

Jadwal latihan Pramuka kami setiap hari Sabtu dan Minggu. Selain baris-berbaris, juga berlatih Morse dan Semaphore. Kami harus ahli bermain Morse dan Semaphore karena dua keterampilan itu sering diperlombakan, khususnya pada kegiatan-kegiatan perkemahan, baik Perjusami (Perkemahan Jumat, Sabtu, Minggu) atau Jambore. Yang paling kami suka adalah hiking, menjelajahi rimba, dan bukit-bukit. Saat hiking harus jago membaca peta dan kompas. Kalau tidak bakal tersesat di tengah jalan.

Saat berkemah di malam hari di sekolah, tak jarang jantung kami dibikin berolah raga, karena harus Jurit Malam. Tengah malam sedang asyik tidur lelap di tenda, kami dibangunkan paksa oleh kakak-kakak senior. Kami dibariskan di tengah lapang, mata ditutup, lalu disuruh berjalan sendiri ke luar sekolah dan pada jam yang ditentukan harus kembali lagi. Tengah malam yang gelap gulita itu kami disebar ke beberapa titik, diberi kabar petakut tentang hantu dan kuburan, tapi tak boleh balik kanan. Ada teman yang penakut, saat Jurit Malam itu dia menangis dan kencing di celana.

Untunglah semua ujian itu mampu kami lewati dengan baik. Tak jarang dalam berbagai perlombaan Pramuka, baik di tingkat kota dan kabupaten, Regu Badak dan Regu Padi Pramuka sekolah kami selalu membawa pulang juara. Kami melempar baret dan topi Pramuka ke udara beramai-ramai merayakan itu. Sayang medsos malam ada. Cuma kamera jadul. Kalau medsos sudah ada, tentu kegembiraannya bertambah sempurna.

Pantai Perak tepi laut
Siapa suka boleh ikut
Lari pagi tiap hari
Jalan jongkok setengah mati
Yang gendut jadi kurus lagi…

Itu di antara yel yang kami nyanyikan dengan riag gembira untuk membangkitkan semangat di saat latihan Pramuka. Yel-yel lain banyak. Dalam setiap perlombaan, sebelum tampil ke panggung, kami juga selalu menyanyikan yel-yel dengan semangat juara. Sungguh, zaman itu indah sekali. Andai dapat diulang lagi.

Menteri Pendidikan Nadiem Makarim baru-baru ini mengumumkan bahwa Pramuka tidak lagi menjadi kegiatan ekstrakurikuler wajib di sekolah. Sebelumnya, melalui Permendikbud No. 63 Tahun 2014 Pramuka merupakan kegiatan ekstrakurikuler wajib dan harus diikuti oleh seluruh warga sekolah, khususnya siswa. Namun, Permendikbud No. 12 Tahun 2024 yang dikeluarkan pada 25 Maret, Pramuka dikategorikan sebagai ekstrakurikuler pilihan atau tidak wajib lagi. Siswa boleh memilih ekstrakurikuler lain selain Pramuka.

Mas Menteri memang tidak menghapus Pramuka, tetapi dengan menjadikan ekstrakurikuler tidak wajib lagi membuat Pramuka lemah pamornya. Sementara, jika merujuk sejarah, Pramuka merupakan keputusan negara dan pemerintah yang turut membangun karakter bangsa. Tidak hanya di sekolah, Gerakan Pramuka juga dimiliki hampir di seluruh intansi, khususnya kementerian dan lembaga.

Sebagai orang yang turut merasakan manfaat Pramuka saya ikut menyayangkan keputusan Mas Menteri, meski maksudnya baik, agar siswa lain bisa fokus mengikuti ekstrakurikuler sesuai bidang dan minat yang diinginkan. Namun, di saat tidak menjadi wajib lagi, Pramuka hanya menjadi satuan ekstrakurikuler kecil di tengah rumah besar bernama sekolah.

Padahal, Pramuka turut membantu pencapaian dari tujuan pendidikan nasional, yaitu menciptakan manusia Indonesia yang bermartabat, cerdas, bertakwa, disiplin, jujur, dan berintegritas. Saat aktif menjadi anak Pramuka, saya juga merasakan mendapat gemblengan semi militer sehingga punya semangat nasionalisme yang tinggi.

Kemendikbud menyangkal ekstrakurikuler Pramuka dihapus dan mengatakan keikutsertaan Pramuka di sekolah hanya bersifat sukarela dan mengikuti perkemahan tidak wajib lagi. Padahal, dalam Pramuka, berkemah itu sangat penting, terutama melatih kemandirian siswa agar tidak cengeng. Di perkemahan siswa akan belajar mengurus dirinya sendiri, mengatur tidurnya sendiri, hingga belajar memasak, dan membersihkan pekarangan kemah mereka sendiri. Kalau siswa tak lagi mengikuti kemah Pramuka, penanaman nilai karakter dan kemandirian mereka akan berkurang, sebab berkemah tidak mereka dapatkan pengalamannya pada eksul lain, kecuali jika ada ekskul mapala; pencinta alam, misalnya. Tapi itu jarang di sekolah, kecuali di perguruan tinggi.

Pramuka adalah rumah yang telah membentuk karakter kepribadian siswa dan bangsa, terutama dalam aspek kedisiplinan, semangat pantang menyerah, kejujuran, berintegritas, rela berkorban, kepedulian, empati, yang tentu semua itu bukan sekadar teori, melainkan praktik dengan sentuhan humanisme sehingga endingnya menumbuhkan perilaku dan akhlak yang baik bagi anak.

Kita harus berterima kasih kepada Pramuka karena tugas-tugas orangtua dan guru terbantu sehingga harapan menjadikan siswa sebagai generasi “pilih tanding” di masa depan tidak “kaleng-kaleng”, karena mereka digembleng untuk tidak mudah cengeng dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupannya. Semoga Pramuka tetap menjadi alternatif terbaik sebagai ekstrakurikuler penting di sekolah dan dukungan regulasi pemerintah tetap menguatkannya. Salam Pramuka! (*)

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca