Perayaan Hari Puisi Sedunia, Riri Satria: Puisi Harus Mampu Menyentuh Batin Manusia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Pengantar Redaksi:
Mengutip laman National Today, 21 Maret pertama kali ditetapkan sebagai Hari Puisi Sedunia oleh UNESCO pada Konferensi Umum ke-30 di Paris tahun 1999. Tujuannya untuk mendukung keragaman bahasa melalui ekspresi puisi dan melestarikan bahasa-bahasa yang terancam punah. Di Indonesia, momen itu turut dirayakan berbagai pihak, khususnya para penyair. Memang, puisi tidak akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau pendapatan nasional, puisi tidak akan menemukan obat atau vaksin baru, puisi tidak akan menemukan sumber energi terbarukan, dan sebagainya, karena itu bukan peran puisi, tetapi puisi sejatinya harus mampu menyentuh batin manusia, membuka paradigma, membangun empati, membangun semangat, dan sebagainya, sehingga manusia bisa berkarya untuk membangun perubahan sosial, bahkan peradaban. Majalah digital elipsis mewawancarai pakar teknologi digital yang juga penyair, Riri Satria. Berikut bincang-bincang Muhammad Subhan dari majalah elipsis bersama Riri Satria. Selamat menyimak.


Bagaimana seorang Riri Satria yang sehari-hari berkecimpung dalam dunia riset, teknologi, dan ekonomi memandang puisi? Apa peran puisi dalam kehidupan Anda?

Puisi adalah salah satu cara saya menyeimbangkan diri dengan sisi lain kehidupan saya yang sarat dengan teknologi, ekonomi, serta penelitian, yang penuh dengan rasionalitas terukur, angka-angka, rumus-rumus, analisis, prediksi, dan sebagainya. Puisi membawa saya untuk menyadari banyak fakta tak terlihat kasat mata, suara-suara tak terdengar, melakukan dialog batin dengan diri sendiri, serta membiarkan imajinasi berkelana ke mana saja, dan tentu saja mencoba untuk memahami Semesta dengan lebih baik.

Anda sangat menyukai buku Mary Ridgley yang berjudul Science and Poetry. Bagaimana keterkaitan antara ilmu pengetahuan atau sains dengan puisi?

Saya sependapat dengan apa yang diungkapkan Mary Ridgley dalam bukunya Science and Poetry: likewise science, poetry is also how to discover and understand the universe. Menurut saya, puisi itu memang produk dari proses kreatif, mengandalkan imajinasi, namun bukan semata khayalan yang asal-asalan. Puisi adalah produk intelektual. Makanya, dalam beberapa hal, puisi memerlukan data, studi literatur, bahkan kalau perlu lakukan observasi lapangan, ya semacam riset lah. Bedanya dengan sains, puisi itu menangkap suara-suara tersembunyi, fakta-fakta yang tak kasat mata, sesuatu di balik realita, yang hanya mampu ditangkap oleh ketajaman intuisi seorang penyair, diolah secara kreatif, disajikan dalam bahasa puitik. Sains menyajikan pola-pola fakta empiris, sedangkan puisi menyajikan sesuatu yang tersirat di balik fakta empiris (beyond the facts). Ketika seorang penyair membahas hujan, dia tak menjelaskan hujan karena itu tugas ahli meterologi, namun penyair menjelaskan pesan yang dia tangkap di balik suara hujan tersebut, itulah puisi. Science and technology are poetry, where science is the poetry of reality, technology is the poetry of innovation, and mathematics is the language. Terjemahannya kira-kira: ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) itu puitis, di mana ilmu pengetahuan adalah puisi dari realita kehidupan, teknologi adalah puisi dari inovasi, serta matematika adalah bahasanya.

Bagaimana rasanya hidup di tiga dunia berbeda; dunia bisnis, akademik, serta puisi?

Rasanya sih asik-asik saja. Menyenangkan malahan. Hidup terasa berwarna dan saya bisa menikmati hidup dengan berbagai cara. Namun, dunia bisnis adalah dunia saya yang utama. Saya membangun kompetensi dan karir di bidang ini dengan sangat serius, bahkan mencapai titik seperti saat ini. Dunia digital economy adalah dunia saya, perpaduan antara teknologi digital dan ekonomi atau bisnis. Namun, saya tidak bisa dipisahkan dari kampus. Mengajar di kelas dan berdiskusi dengan mahasiswa adalah kebahagiaan tersendiri buat saya. Apalagi ketika menyaksikan mereka di wisuda, wuih, bahagianya! Nah, dunia puisi melengkapi hidup saya. Melalui puisi saya mencoba mendekati kehidupan dengan rasa, bukan logika. Banyak things unseen serta unspoken words dalam dunia puisi. Demikianlah, dunia bisnis tempat cari nafkah, dunia akademik untuk menyalurkan idealisme dan pemikiran, dan puisi untuk lebih memaknai hidup.

Apakah puisi juga memegang peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat?

Perlu kita pahami bahwa puisi tidak akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau pendapatan nasional, puisi tidak akan menemukan obat atau vaksin baru, puisi tidak akan menemukan sumber energi terbaharukan, dan sebagainya. Bukan itu peran puisi. Namun, puisi itu harus mampu menyentuh batin manusia, membuka paradigma, membangun empati, membangun semangat, dan sebagainya, sehingga manusia bisa berkarya untuk membangun perubahan sosial, bahkan peradaban. Namun, puisi mampu menjadi alat untuk menggugah manusia memelihara sistem sosial yang baik, menjaga lingkungan hidup dengan baik, menjaga nilai-nilai kemanusiaan, dan sebagainya. Misalnya, kumpulan puisi Rendra yang memotret pembangunan yang disajikan dengan puitis, menjadi salah satu alat kontrol sosial. Jadi, bukan puisinya yang membuat perubahan sosial, namun puisi mampu menjadi trigger buat manusia sehingga melakukan hal-hal baik untuk perubahan sosial. Jadi peran puisi itu tidak langsung dalam perubahan sosial. Itu hakekat puisi menurut saya. Nah, untuk itu, puisi tak hanya dibacakan di ruang pertemuan para penyair semata. Puisi tak boleh berhenti di ruang-ruang senyap yang tak bergaung ke mana-mana. Puisi harus sampai menggugah mereka di ruang diskusi ekonomi, bisnis, teknologi, energi, kedokteran, pertanian, lingkungan hidup, dan sebagainya. Puisi dan penyair harus punya wibawa jika berhadapan dengan ini semua.

Anda sering mengatakan bahwa puisi itu karya intelektual, bagaimana maksudnya dalam pandangan Anda?

Jadi begini, puisi itu bukan hanya soal cinta picisan, patah hati, rindu, dan sebangsanya. Itu boleh-boleh saja, kan manusiawi juga. Kita manusia kan punya softside yang bisa diekspresikan dengan puisi. Tetapi kita perlu ingat, bukankah karya tertinggi untuk karya sastra (termasuk puisi) di dunia ini adalah Hadiah Nobel? Artinya, setara dengan ilmu fisika, kedokteran, ekonomi, dan sebagainya, serta sama pentingnya dengan perdamaian dunia. Jadi, ya seserius itulah! (*)

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca