Merawat Bahasa Banjar, BASAkalimantan Wiki Diluncurkan di Jakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA, majalahelipsis.com—Merawat bahasa daerah di era mutakhir perlu diupayakan lewat pendigitalisasian bahasa lokal di Indonesia agar potensi punah dapat dicegah.

Sejak 2014, Yayasan BASAibu Wiki merintis BASAbali Wiki, disusul BASAsulsel Wiki tahun 2021.

Organisasi ini mendorong kaum muda untuk menyuarakan pendapat melalui platform digital dalam bahasa ibu atau bahasa asli daerah.

Pada 2024, BASAibu Wiki memilih tiga bahasa untuk proses pendigitalisasian, yakni bahasa Bali, Makassar, dan Banjar. Dua di antaranya sudah jalan dan terus berproses, sementara bahasa Banjar baru memulai.

Peluncuran Kamus Digital Bahasa Makassar dalam platform BASAsulsel Wiki dan Kamus Digital Bahasa Banjar dalam platform BASAkalimantan Wiki, di Jakarta, (7/3/2024), didukung penuh Kedutaan Amerika Serikat, melalui U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), bekerja sama dengan Rumata’ Arts Space di Sulawesi Selatan dan Akademi Bangku Panjang Mingguraya (ABPM), serta Sanggar Belajar Mahabbatun Nabi Barambai di Kalimantan Selatan.

Peluncuran ini dikemas secara hybrid di @america Pasific Place Mall Lantai 3#325 Jl. Jendral Sudirman, Jakarta dengan diskusi tentang bahasa daerah oleh Narasumber Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum. (BASAibu Wiki), Riri Riza (Rumata’ Arts Space), Hudan Nur (BASAkalimantan Wiki), Ita Ibnu (BASAsulsel Wiki), dan Putu Eka Guna Yasa (BASAbali Wiki).

Selain itu, digelar secara paralel lomba Wikithon (Wiki Marathon) tema bahasa Sulsel di Gowa dan hadirin di Jakarta dan penampilan spesial Rap dari Jflow yang membuat sebait lagu dari sejumlah kata yang disumbangkan audiens secara spontan.

Pegiat literasi dan anggota Perhimpunan Penulis Indonesia “ALINEA”, Hudan Nur, menyebut BASAkalimantan Wiki adalah terobosan mutakhir untuk memasyarakatkan bahasa Banjar dengan pelibatan partisipasi publik dengan pendigitalisasian kamus berbasis Wiki.

“Dalam dua tahun ke depan, setelah diluncurkan di Jakarta, BASAkalimantan Wiki akan banyak sekali melakukan aktivitas terkait penelitian berjenjang untuk pembuatan kamus digital bahasa Banjar yang akan ditangani oleh tim Ibu Muslimah, Pak Mumus, dan Wayan Sudare. Sementara untuk Wikithon akan banyak digarap bareng anak-anak muda di Banjarbaru,” ujar Hudan Nur kepada majalahelipsis.com, Ahad (10/3/2024).

Pemilihan bahasa Banjar dalam program ini di Pulau Kalimantan telah melalui proses dan pertimbangan yang sangat matang oleh Yayasan BASAibu, terlebih di Kalimantan banyak penutur yang menggunakan bahasa Banjar dalam percakapan.

“Secara nyata di kehidupan masyarakat Kalimantan, bahasa Banjar telah menjadi lingua franca, bahasa penghubung antara Banjar dan Dayak,” papar Hudan.

Pada kesempatan itu turut hadir Plt. Dinas Pendidikan Kabupaten Kuala, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru, serta Kabid Kearsipan, Direktur Akademi Bangku Panjang Mingguraya, dan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan.

Mangara Siagian (Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan) sangat mendukung upaya pendigitalisasian Bahasa Banjar lewat pangkalan data awal yang dimiliki oleh instansinya.

“Kami siap bermitra dengan BASAkalimantan Wiki untuk inisiasi baik ini, sehingga program Balai Bahasa lewat revitalisasi bahasa lokal benar-benar bisa dilakukan secara masif,” ungkap Mangara Siagian selaku Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan.

718 Bahasa Asli Daerah

Mengacu pada data yang dikutip Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Budaya Indonesia sendiri disebutkan, di Indonesia ada 718 bahasa asli daerah. Dari jumlah itu, hampir 90 persen berada di wilayah timur Indonesia: 428 di Papua, 80 di Maluku, dan 72 di Nusa Tenggara Timur, dan 62 di Sulawesi.

Namun demikian, dari hasil pemetaan yang dilakukan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2021), ternyata ada delapan bahasa ibu di Indonesia kategorinya telah punah, lima bahasa kritis, 24 bahasa terancam punah, 12 bahasa mengalami kemunduran, 24 bahasa dalam kondisi rentah (stabil tetapi terancam punah), dan 21 bahasa lainnya berstatus aman.

Sinergi Bahasa Ibu dengan Komunitas

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan BASAbali Wiki, Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum. mengatakan, platform digital bahasa ibu atau bahasa asli suatu daerah di Indonesia menjadi penting sebagai pemberdayaan masyarakat agar terbiasa menggunakan berbagai bahasa daerah di dunia digital modern.

Secara bersamaan, platform ini juga membantu masyarakat dalam mendokumentasikan dan mengembangkan bahasa lokalnya sebagai salah satu kekayaan budaya nasional, yang bisa dibanggakan.

“Meski belum banyak yang kami buatkan kamus digitalnya, karena sangat tidak mudah mengumpulkan harta karun bahasa ibu satu daerah saja, namun dengan terkumpulnya bahasa Makassar di Sulawesi Selatan dan Banjar, di Kalimantan, setelah lebih awal Bali, menjadi langkah awal yang baik. Kami tidak ingin bahasa asli daerah kita punah, dan kami harap kaum muda pun bisa bangga menggunakan bahasa ibunya sendiri,” tambah Putu Eka Guna Yasa, Managing Director BASAbali Wiki.

Bahasa Makassar sendiri termasuk salah satu yang bahasa mulai jarang dituturkan, karena kebanyakan orang terutama di wilayah urban lebih suka berbahasa Indonesia namun dengan dialek Bugis dan Makassar.

Begitu juga dengan Kalimantan seperti bahasa Banjar, bahasa tutur asli daerah ini juga tidak begitu sepopuler dan dikenal seperti halnya bahasa Jawa, Batak, Padang, atau bahkan Madura.

Sutradara dan skenario terkenal, Riri Riza, menyebutkan, bahasa lokal merupakan kekuatan dan berperan penting sekali dalam lini kehidupan, terlebih pada bidang seni.

“Banyak karya seni, budaya, dan juga film yang dibuat anak-anak muda Makassar yang bertumpu pada bahasa lokal sebagai kekuatan utamanya,” papar Riri Riza yang juga pendiri Rumata’ Arts space dan Sutradara film Petualangan Sherina.

Dalam mengembangkan kamus BASAsulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki jelas tidak mudah. Mereka harus berkolaborasi dengan komunitas asli daerah tersebut. Masyarakat diajak untuk mengirimkan contoh kata atau kalimat dalam bentuk teks dan video sesuai dengan konteks. Sebagai living dictionaries penambahan konten dalam kamus ini juga disesuaikan dengan penggunaan kata dan kalimat yang secara aktual digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pengimplementasian programnya, BASAibu juga berkolaborasi dengan pemerintah, akademisi, guru, masyarakat sipil dan pemangku kepentingan lainnya.

BASAibu Wiki juga memiliki kompetisi berkala yang disebut sebagai Wikithon yang berupaya untuk mendorong generasi muda secara aktif berpartisipasi dalam mengembangkan sumber daya kamus ini sehingga dapat diakses secara gratis oleh masyarakat lokal dan di tingkat global. (*/aan/elipsis)

Editor: Muhammad Subhan

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca