Lulus

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Muhammad Subhan

SESUDAH minum teh telur di lepau Engku Raoh di Simpang Lapan bersama Engku Kari kawan karibnya, pulanglah Engku Sut ke dangaunya di kaki Singgalang.

Masuk dia ke dangaunya itu, terus ke belakang, turun ke tepian mandi, membersihkan badan.

Setelah itu, dia berganti pakaian di bilik, sebelum ia duduk di beranda, menikmati angin senja, sembari membolak-balik buku bacaan yang belum tuntas terbaca.

Ketika memilih-milih pakaian itu, tampaklah di matanya kemeja putih, sarawa abu-abu, seragam sekolah SMA-nya dulu.

Rupanya, dia masih menyimpan pakaian yang sudah usang itu. Kerah baju itu telah robek, membentuk gambar sebuah pulau. Melihat pemandangan demikian, berkaca diri dia, kini usia sudah tak lagi muda. Uban telah mencigap pula di kepala.

Namun, dia bersyukur, pakaian itu masih terlipat rapi di lemari, lengkap dengan topi sekolahnya. Buku-buku sekolahnya dulu pun masih dia simpan dengan baik, meski tak pernah sekalipun ia buka lagi, karena ilmunya tak lagi di situ.

Diciumnya pakaian itu lekat-lekat, dan kedua bola matanya terpejam rapat-rapat, mengenang masa-masa mudanya dulu, masa paling indah dalam hidupnya, juga dalam hidup banyak orang yang pernah sekolah.

Di lepau Engku Raoh, sebelum pandemi bahkan ketika pandemi, ota orang tentang adat coret-coret baju yang diperbuat anak-anak sekolah, yang setiap tahun akan berulang ketika mereka lulus, di mana saja. Dan itu nyata terjadi, bukan ota belaka. Koran dan televisi sering memberitakannya.

Padahal, sebelum ujian, anak-anak itu ikut tausyiah, tafakur mendengar ceramah guru di lapangan sekolah, sampai terbit air mata dan salemonya. “Jangan pernah mencoret-coret baju,” nasihat guru. Menguatkan itu, orang tua pun diundang datang, dan siswa-siswa itu memeluk ayah dan mandehnya sepenuh haru, minta ampun atas segala salah. Namun, sehabis tausyiah, habis pulalah masa “tobat” mereka. Nasihat guru dibawa angin lalu. Masuk telinga kanan, terhambur di telinga kiri.

Entah siapa yang salah, orang tua, guru, atau si anak yang tak tahu berterima kasih, atau itu memang sudah menjadi budaya yang harus dibudayakan dari tahun ke tahun, sebab anak-anak itu melihat contoh yang sudah. Atau, mungkin, anak-anak yang mencoret-coret baju itu belum pernah minum teh telur. Entahlah.

Engku Kari, kawan Engku Sut, pernah menulis sebuah sajak, untuk dibacanya sendiri, dibacakannya pula di lepau Engku Raoh di Simpang Lapan, memotret fenomena itu. Semoga saja anak kemenakannya tidak berbuat serupa, sebab ia merasakan betapa susahnya dulu ketika minta dibelikan baju sekolah, sementara abak dan mandehnya orang susah. Memang, susah menjadi orang susah. Semua serba susah.

ODE KELULUSAN

Baju yang kaucoret itu, Nak
dengan cat semprot warna warni
adalah peluh darah ayah dan ibumu.
Peluh yang mereka pungut; di sawah,
di pasar, di jalan raya, di kantor,
dan di mana saja, tetapi peluh itu,
kaubalas kemubaziran
meski kaupulang
membawa angka kelulusan.

Mungkin saja ayah dan ibumu
tersenyum bangga dan haru.

Tahukah kau, Nak
di balik air mata tersembunyi itu
dada mereka sesak menahan perih.
Tapi tak mampu diucapkannya
kepadamu, sebab mereka
ingin melihat kaubahagia
sampai ia menutup mata.

Harapan Engku Sut dan Engku Kari, semoga kelulusan anak-anak sekolah tahun ini, tak lagi melakukan perbuatan coret-coret baju. Kalaupun baju sekolah itu tak berguna sebab telah tamat, sebaiknya dikumpulkan dan disumbangkan ke panti asuhan, atau untuk anak-anak lain yang belum beruntung mendapatkan pendidikan.

“Membuat kenangan tidak harus dengan perilaku kurang elok kan, Engku?” timpal Engku Raoh mengomentari Engku Sut dan Engku Kari di lepaunya, suatu hari.

Engku Sut mengangguk, Engku Kari demikian pula. Keduanya memuji anak-anak yang menahan diri untuk tidak mencoret baju, dan didoakan menjadi generasi emas di masa depan.

Untuk keterbacaan teks dan tampilan yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Play Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis (Instagram).

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca