Kaktus dan Rumput Teki

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Elvilawati

SEBENARNYA hati Teki sedih karena diejek Yuki dan Mugi.

Tapi Teki adalah rumput yang selalu ceria. Ia tahu, dipotong itu tak akan membuatnya mati. Justru mereka akan semakin cantik dan rapi.

Yuki dan Mugi adalah dua kaktus yang dipelihara di dalam sebuah rumah. Yuki dan Mugi hidup dengan sangat enak. Tinggal di dalam pot cantik, setiap hari selalu disiram dengan cairan pupuk agar selalu tumbuh subur dan segar. Dua kali dalam seminggu Yuki dan Mugi akan dibawa pemilik rumah ke teras depan rumah untuk mendapatkan cahaya matahari. Karena bagaimanapun, setiap tumbuhan membutuhkan matahari untuk hidup.

Setiap hari Yuki dan Mugi selalu diletakkan di tempat yang bagus, yaitu di meja ruang tamu. Sehingga setiap tamu yang datang, selalu berdecak kagum melihat keelokan tanaman kaktus tersebut. Oleh sebab itu, Yuki dan Mugi kerap mengejek rumput teki yang hidup di halaman depan rumah tersebut.

“Kasihan sekali kalian, tidak dianggap. Yang ada diinjak-injak,” ejek Yuki suatu hari.

“Iya tuh, Yuki, kehujanan, kepanasan, eh giliran panjang, dipotong. Ha-ha-ha …,” sahut Mugi menimpali ejekan Yuki.

“Kami memang lebih suka hidup seperti ini, Kawan. Hidup bebas, kami sudah terbiasa mencari makanan di alam terbuka. Jika hujan turun, kami sangat senang karena bisa mandi hujan-hujanan bersama-sama,” sahut Teki tidak mau kalah.

“Elleehhh! Bilang saja kalian iri melihat kami. Kami hidup enak. Disayang-sayang, haus dikasih minum, dikasih vitamin, tidak kehujanan, tidak kepanasan. Sementara kalian?” timpal si Mugi berapi-api.

“Kami tidak takut hujan, hujan membuat tubuh kami segar. Tanah menjadi lembab, cacing-cacing akan bertelur dan berkembang biak. Tanah akan subur dan kami akan tumbuh subur juga. Kami juga tidak takut matahari. Matahari membantu kami memasak makanan, sehingga zat hijau daun kami lebih banyak. Kami akan semakin subur dan cantik,” jawab si Teki membela diri.

“Ya, ya, setelah subur dipotong, ha-ha-ha …,” sahut Yuki dan Mugi bersamaan sambil berlalu ke dalam rumah, karena si empunya rumah mengangkat mereka ke dalam.

Sebenarnya hati Teki sedih karena diejek Yuki dan Mugi. Tapi Teki adalah rumput yang selalu ceria. Ia tahu, dipotong itu tak akan membuatnya mati. Justru mereka akan semakin cantik dan rapi.

Suatu hari, pemilik rumah mengeluarkan Yuki dan Mugi. Meletakkan di teras rumah. Tapi sebenarnya hari ini belum waktunya mereka ke luar untuk berjemur. Sepertinya si tuan rumah akan bepergian. Ya, benar saja. Mereka menaiki mobil dan membawa barang bawaan yang cukup banyak. Akan tetapi Yuki dan Mugi masih menyombongkan diri, mereka percaya kalau tuannya hanya pergi sebentar dan akan pulang dengan membawa pupuk dan vitamin terbaik untuk mereka.

Namun, hingga malam, si tuan rumah belum kembali, membuat Yuki dan Mugi harus tidur di luar rumah malam ini.

“Tidak masalah. Paling besok pagi mereka kembali,” ucap Mugi menguatkan Yuki.

Kokok ayam bersahutan. Matahari mulai memancarkan sinarnya dan mulai menerpa Yuki dan Mugi yang tertata rapi dan cantik di teras rumah. Semakin siang, cuaca semakin panas. Yuki dan Mugi mulai gelisah, karena kadar air di dalam pot tempatnya tumbuh mulai mengering. Mata mereka selalu mengarah ke ujung jalan, berharap tuan rumah akan muncul dari arah sana. Namun, hingga sore hari si tuan rumah tak kunjung pulang.

“Yuki, aku haus,” Mugi mulai bersuara.

“Hus! Jangan kencang-kencang ngomongnya! Nanti Teki dengar dan mengejek kita,” sergah Mugi sambil berbisik.

“Memangnya kamu nggak haus?” tanya Mugi berbisik pula.

“Ya, hauslah!” Yuki menjawab kesal. Namun, masih berbisik.

“Tenanglah, kita harus sabar. Paling besok pagi mereka pulang. Sekarang kita tidur saja.” Yuki berusaha menenangkan Mugi, meski ia sendiri merasa haus dan lapar.

Dari sudut taman rumah itu, Teki melihat wajah Yuki dan Mugi yang telah gusar.

Walaupun mereka sering mengejeknya, tetapi Teki merasa kasihan melihat mereka. Teki memang berhati baik dan tidak pernah menaruh dendam. Tapi apalah daya, rumput-rumput teki itu tidak bisa membantu.

Malam hari pun kembali berlalu. Matahari mulai terbit. Namun, Yuki dan Mugi belum juga bangun. Teki mulai khawatir dan mulai memangil-manggil.

“Yuki, Mugi! Ayo bangun! Sudah siang nih,” teriak Teki.

Yuki dan Mugi mengangkat kepala mereka dengan berat. Mereka kelihatan sangat lemas.

“Mugi, aku sangat haus. Tubuhku sangat lemas,” ucap Yuki lirih.

“Sama. Aku juga,” jawab Mugi tak kalah lirih.

“Kalau mereka tidak kembali, kita bisa mati, Mugi. Kita harus bagaimana ini?” Mugi hanya menggeleng lemas.

“Aku mau tidur lagi saja, biar tidak tambah lemas,” ucap Yuki.

Hingga menjelang siang, si pemilik rumah belum kunjung datang. Yuki dan Mugi semakin lemas. Teki melihat mereka dengan rasa iba. Namun, apalah daya, Teki hanyalah tumbuhan yang tidak memiliki kaki untuk berjalan membantu mereka.

Dalam hati Teki sangat bersyukur. Meskipun dibiarkan hidup liar, tapi mereka tidak pernah kelaparan dan kehausan.

Tiba-tiba dari langit terdengar guruh bersahutan. Langit yang cerah lindap. Angin kencang datang dari segala arah. Menerpa semua tanaman dan pepohonan. Juga Yuki dan Mugi. Pot tempat mereka tumbuh pun jatuh ke lantai teras rumah. Brak! Pecah. Mereka meringis kesakitan. Yuki terlempar jauh ke sudut teras, membuat Yuki dan Mugi terpisah. Mugi menangis sesegukan. Ia sadar kalau selama ini mereka sudah salah mengejek Teki.

Ingin rasanya meminta maaf kepada Teki, tetapi apalah daya, ia tak punya daya lagi untuk mengeluarkan suara.

Yuki juga menyadari, kalau Allah telah membalas sifat sombongnya. Ia malu kepada Teki. Selama ini ia selalu merendahkan rumput malang itu. Sekarang ia menerima akibatnya. Sekuat tenaga ia mencoba menggulingkan badannya hendak mendekati Mugi yang menangis. Tapi terlalu sulit. Ia tidak bisa.

Sesaat kemudian turunlah hujan yang sangat lebat. Yuki dan Mugi mencoba menggeser tubuhnya ke arah halaman rumah. Berharap dapat menjilat setetes air hujan untuk menghilangkan dahaga mereka. Namun, terlalu sulit. Mereka terlempar sangat jauh ke sudut teras.

Dari halaman rumah, terdengar riuh sorak sorai rumput-rumput teki dan tumbuhan lainnya. Mereka begitu girang dan menari-nari diterpa hujan yang menyegarkan itu. Yuki dan Mugi hanya bisa menelan ludah. Sungguh malang nasib mereka. Mugi kembali menangis sesegukan.

Sementara dari kejauhan, tampak seorang nenek tua yang berlari menuju teras rumah tersebut. Nenek tersebut hendak berteduh. Dengan sigap ia naik ke teras rumah tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju kepada pot bunga yang berserakan itu. Sang Nenek pun mengambilnya. Nenek itu begitu iba melihat tanaman kaktus yang malang itu.

Lalu sang nenek mengambil parang dari dalam tasnya. Kemudian sang nenek mencabut kaktus itu dari dalam pot yang sudah retak itu. Yuki dan Mugi sangat ketakutan. Mereka menjerit.

“Kita mau diapakan?” tanya Mugi sambil menangis.

“Mungkin nenek ini akan memotong kita,” jawab Yuki juga sambil menangis.

Namun, mereka salah. Sang nenek justru membawa mereka keluar rumah. Ia menggali lobang dengan parangnya di pojok rumah yang tidak tergenang air, tapi tetap lembab. Nenek tersebut tahu kalau tumbuhan kaktus tidak bisa hidup di tempat yang banyak air. Sang Nenek menanam Yuki dan Mugi di tanah.

“Ah. Syukurlah Mugi, ternyata golok nenek ini cuma untuk menggali lobang. Bukan untuk memotong-motong kita,” desah Yuki lega.

Yuki dan Mugi sangat senang sekarang. Mereka tidak kehausan lagi. Mereka hidup berdampingan dengan Teki dan kawan-kawannya.

“Teki, maafkan kami, ya! Selama ini kami sudah salah sama kalian,” ucap Yuki dengan tulus dan diikuti anggukkan Mugi.

“Tidak apa-apa, Kawan. Kami senang kalian berdua tidak mati kehausan. Sekarang kita bisa berteman,” ucap Teki sungguh-sungguh.

“Alhamdulillah, kamu memang sangat baik, Teki.”

Penulis: Elvilawati
Editor: Asna Rofiqoh

Elvilawati. Lahir di Koto Alam, Kecamatan Pangkalan, 6 Januari 1986. Menyukai dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMP. Menyelesaikan pendidikan S-1 PG PAUD di Universitas Terbuka pada tahun 2015. Pengalaman mengajar sebagai pendidik PAUD dan kecintaan terhadap dunia anak membuatnya tertarik menulis cerita anak. Saat ini berdomisili di Kabupaten Kampar.

Sumber: Majalah digital elipsis edisi 001, Juni—Juli 2021

Untuk keterbacaan teks dan tampilan yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Play Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca