Jadi Penulis Harus “Tahan Banting” (2)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Muhammad Subhan

TIDAK sedikit penulis (pemula) yang mengirim tulisan ke media massa, baik cetak atau online, tetapi tidak mendapatkan honor ketika tulisannya terbit. Ada rasa kecewa, sedih, putus asa, dan perasaan lainnya. Sudah capek nulis tidak mendapatkan apa-apa. Padahal, dia baru sekali itu mengirim tulisan ke media tersebut dan untungnya terbit.

Sebagai penulis (pemula), seharusnya bersyukur, di antara banyak naskah yang masuk ke meja redaksi tetapi tulisannya berkesempatan mendapat tempat di media tersebut. Sementara banyak penulis lainnya menunggu daftar antrean, bahkan tanpa kejelasan nasib naskahnya; akan terbit atau tidak sama sekali.

Bagi penulis (pemula), di awal-awal menulis, sebaiknya jangan memikirkan honor dulu. Berproses saja dulu. Prosesnya akan “berdarah-darah”. Mendapat kesempatan terbit itu sudah bagus. Ada harapan di masa depan lebih cerah. Namun, yang perlu ditekadkan, naskah yang terbit itu bukan karya pertama dan terakhir.

“Cerah bagaimana kalau prospeknya tanpa honor?”

“Sudah capek-capek nulis, terbit, tapi tak mendapat apa-apa!”

“Buang-buang waktu, tenaga, uang (karena butuh paket intrenet ngirimnya, juga riset), plus capek memikirkan idenya!”

Akan banyak suara protes kalau si penulis (pemula) tak meluruskan niatnya.

Pertanyaannya, kalau memang capek nulis, kok malah milih jadi penulis? Jualan saja. Buka warung pecel lele, misalnya. Untungnya lebih jelas. Jadi, tidak perlu menggerutu.

Tulisan terbit di sebuah media banyak pertimbangannya. Belum tentu naskah itu bermutu, tetapi ada ruang apresiasi yang dapat dimasuki. Tak jarang redaktur sebuah media memberi kesempatan penulis-penulis (pemula) agar tulisan mereka terbit. Harapan si redaktur, si penulis semakin produktif, bersungguh-sungguh, dan menghasilkan karya lebih baik dari tulisan yang telah terbit itu.

Jangan baru terbit sekali, gaya sudah seperti penulis besar, jual mahal, lalu hitung-hitungan soal honor pemuatannya.

Hakikatnya, setiap media memang harus memberikan honor kepada penulis yang karyanya terbit. Namun, kenyataannya tidak semua media yang dikirimi tulisan adalah media yang mapan secara finansial, tetapi tetap memberi ruang dan kesempatan kepada penulis-penulis (pemula) untuk menerbitkan karya mereka. Apalagi tak sedikit media yang mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menyediakan honor, kecuali beberapa media besar.

Niat baik media yang memberi ruang kepada penulis (pemula) perlu dihargai dan ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan sebagai “batu loncatan” untuk karya-karya berikutnya. Di media itu si penulis (pemula) bisa rutin menulis, mengasah kemampuan, sehingga kelak dia benar-benar menjadi penulis profesional yang diperhitungkan dan dibayar dengan honor layak.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar media membayar honor tulisan?

Pertama, kalau menulis target utamanya memang untuk honor, lakukan survei terlebih dahulu, apakah media bersangkutan menyediakan honor atau tidak. Bertanyalah kepada penulis-penulis yang karyanya pernah terbit di media itu, apakah mereka menerima honor atau tidak? Jika ada, berapa pun jumlahnya, ada peluang mendapatkan honor di sana. Kalau tidak ada honor, kembali kepada niat semula, apakah si penulis (pemula) mau memanfaatkan media itu sebagai jembatan untuk mengasah kreativitas menulisnya atau menarik naskah dan mengirimnya ke media lain yang menyediakan honor.

Jadi, si penulis (pemula) harus gigih. Harus “tahan banting”. Terus kirim. Kirim terus. Lagi dan lagi. Jangan menyerah sebelum bertarung.

Kedua, kirim naskah ke media-media besar ternama yang sudah jelas menyediakan honor. Koran-koran nasional biasanya menyediakan honor antara Rp300 ribu sampai Rp1 jutaan. Lumayan. Tapi jangan kaget dulu. Untuk mendapat honor sejumlah itu tidak gampang, sebab setiap penulis harus menulis karya bagus, menarik, bermutu, disukai redaksi. Kalau redaktur tidak berselera membaca tulisanmu jangan harap akan dimuat!

Tantangan berikutnya, si penulis harus bersaing dengan ratusan bahkan ribuan naskah penulis lain yang bukan saja pemula tapi juga senior yang nama-nama mereka tak asing di jagat kepenulisan tanah air. Media-media sekaliber Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos—sekadar menyebut beberapa nama—tentu tidak sembarangan menerbitkan tulisan. Redakturnya akan memilih dan memilah, mana tulisan bagus dan tidak. Media-media besar “cenderung” menerbitkan tulisan-tulisan penulis yang sudah punya nama daripada penulis-penulis baru muncul yang tulisannya masih “amburadul”. Namun, bukan berarti penulis pemula tidak berpeluang naskahnya terbit. Kesempatan terbuka lebar.

Jika orentasi menulis semata untuk “uang”, maka si penulis (pemula) harus mau dan berani menembus media-media besar itu. Tetapi sudah pasti tidak semudah membalik telapak tangan. Kerja harus lebih keras dan banyak bersabar.

Jadi, untuk tahap pemula, dianjurkan tidak “matre”. Jalani saja dulu prosesnya seasyik mungkin. Tidak usah terbebani dengan ini itu. Menulis sebanyak-banyaknya. Menulis apa saja sesuai bidang yang ditekuni. Kirim naskah tulisan itu ke berbagai media. Tapi ingat, satu media hanya untuk satu naskah. Jangan mengirim satu naskah yang sama untuk banyak media. Kalau terjadi pemuatan ganda, otomatis media bersangkutan akan mem-black list nama si penulis.

Mengenal karakter dan konten media tujuan sangat penting. Tidak asal kirim naskah ke media yang tidak dikenal. Jangan juga mengirim tulisan ke media yang tidak bisa dipantau. Sebab, jika tidak terpantau, bagaimana si penulis tahu jika naskahnya dimuat atau tidak? Untung-untung kalau ada kawan yang berlangganan media itu, membaca tulisannya, lalu memberitahu bahwa tulisan itu dimuat. Kalau tidak, kalaupun tulisan itu terbit, si penulis (pemula) akan kehilangan momen berharga dalam hidupnya, yaitu melihat karyanya muncul di media massa.

Bersungguh-sungguh menulis baru “matre” kemudian adalah cara paling bijak dalam membangun pondasi awal proses kreatif. Jika nama dan karya seorang penulis sudah cukup dikenal, hitung-hitungan kemudian secara profesional tak lagi menjadi masalah. Bahkan, si penulis tak perlu capek-capek mengirim tulisan ke media massa, sebab akan banyak redaktur media meminang naskahnya; meminta tulisan-tulisan itu untuk media mereka. Dan, kalau sampai di fase itu, sudah tentu seiring dengan tawaran honor yang menggiurkan. (*)

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca