Hantu Padang: Sastra Perjalanan dan Ulang-Alik Identitas

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Sehla Rizqa Ramadhona

PADA masa sebelum mobilisasi manusia belum seefektif dan seefisien ini, orang Minangkabau sudah menjalani budaya merantau. Para pemudanya biasa meninggalkan kampung untuk mencari penghidupan atau ilmu dalam kurun waktu yang cukup lama. Namun, ketika kecanggihan bertambah, jarak yang jauh menjadi terlipat dan waktu yang lama termampatkan. Perantauan ulang-alik anak Minangkabau akhirnya dimungkinkan. Berbeda dengan perantauan dahulu, perantauan ulang-alik antara dua tempat melahirkan ketegangan identitas yang intens dari para pelakunya. Warna ini, salah satunya, terabadikan dalam kumpulan puisi Hantu Padang (2024) karya Esha Tegar Putra.

Kumpulan puisi Hantu Padang menarik untuk dibahas dalam kacamata identitas dan sastra perjalanan. Bagaimana tidak? Puisi-puisi yang dimaktubkan Esha di dalamnya berangkat dari latar belakangnya sebagai perantau ulang-alik Minangkabau. Ia melakukan perjalanan bolak-balik Jakarta—Padang sepanjang 2015 hingga 2023. Hal inilah yang membuatnya memiliki perspektif tersendiri mengenai tempat-tempat tersebut, perspektif ketegangan.

Esha memulai kumpulan puisi ini dengan puisi ke-0. Dalam tiga baitnya, puisi ini mengadopsi bentuk pantun. Ada sampiran, isi, dan persajakan.

Ombak laut,
gerak pulut-pulut
hidup mengerut serupa kulit limau purut.

Diksi ‘ombak’, ‘badai’, dan ‘gelombang laut’ digunakan Esha sebagai metafora bagi permasalahan hidup yang menimpa ‘pulut-pulut’, manusia kota. Dalam hal ini, rujukannya adalah ibu kota, Jakarta. Lebuh (jalan) yang bertaut dan kota yang mengerucut menyempitkan jiwa orang-orang yang hidup di dalamnya. Sesak ibu kota hanya melahirkan benturan kepentingan. Orang-orang berebut ruang. Bagi Esha, hidup menjadi serupa hantu yang mengintai ketenangan dari ‘lubang lampu’, ‘belakang pintu’, hingga ketika menikmati ‘gulai kemumu’. Dalam puisi ini juga, Esha menggunakan bunyi t yang intens, membentuk kakofoni, sehingga tercitrakanlah suasana yang tidak menyenangkan, dengan kuat.

Pada puisi ke-1, ke-2, dan ke-3, Esha berganti bercerita tentang Kota Padang. Hal ini ditandai dengan diksi-diksi pesisir, seperti ‘lambung kapal tua’, ‘pangkal muara’, dan ‘serbuk garam’. Lalu, ada ‘Hiligoo’, ‘Tepi Pasang’, ‘Pamancuangan’, dan ‘Pasagadang’, nama-nama jalan dan daerah di Padang. Berbeda dengan puisi sebelumnya, suasana yang dibangun dalam puisi-puisi ini adalah suasana nostalgia. Karena dibangun oleh huruf m, n, l, b, d, g, dan r yang intens, pembaca dapat menangkap kesan yang romantis.

kembali
ke kota
dimana malam-malam
terus mengirim
serbuk garam
dan percik kulit asam
membikin dada meruam.

Esha dapat dengan ekonomis menggambarkan suasana Padang. Hanya lewat frase, pembaca bisa merasakan dengan konkret pengalaman penulis. Frase ‘aroma bawang goreng dari pembakaran ‘Sate Danguang-Danguang’, ‘ketuntang kuali penggorengan Kwetiau dipukul sengaja dengan spatula, ‘tukang parkir bergamis-bercelak mengacung-acungkan siwak’, dan ‘sepasang pengamen buta’ mampu melahirkan imaji yang kuat. Tanpa perlu berpanjang lebar, frase-frase ini juga sekaligus melukiskan pula, dengan baik, suasana sosial budaya Kota Padang. Masyarakat lokal, peranakan Tionghoa, pengamal Islam puritan, dan kelompok marginal hidup berdampingan dengan aman. Di samping itu, imaji usang juga terbangun dari frase ‘tiang lampu lama’ dan ‘dinding roboh rumah lama yang sudah ditumbuhi beringin’. Dari sudut pandang Esha yang telah lama meninggalkan Padang, lalu kembali, kota itu masih sama seperti dulu, usang dan statis. Keusangan dan kestatisan yang ia nikmati.

Puisi berikutnya mulai memasuki arena kuliner, salah satu kekhasan Minangkabau. Frase ‘usus sapi bengkak’ dan ‘gulai cempedak hangat’ membangkitkan selera. Frase-frase lainnya gantian melahirkan suasana sibuk di rumah makan, hal yang lumrah ditemui di Padang dan kota-kota lainnya di Sumatra Barat. ‘suara gelas beradu gelas di pencucian’ dan ‘kasir bersorak-sorak memanggil-manggil juru hitung’ melukiskan cekatannya orang Minangkabau. ‘siang dengan panas berdengkang’, ‘kedai nasi berloteng rendah’, dan ‘tukang masak kurus berbaju lapang berangin-angin di muka kipas angin’ berhasil menggambarkan, dengan hidup, udara panas khas Padang.

Esha terus bernostalgia dalam puisi-puisi selanjutnya. Kali ini, nostalgia ketika ia memandang rantau belasan tahun lalu, dari pesisir Padang. Rantau, saat itu, membuncahkan hasratnya akan hari depan yang menggiurkan, impian-impian yang hanya bisa diwujudkan dengan menjejak tanah seberang. Akan tetapi, setelah berlalu belasan tahun dan hasrat untuk menjelang rantau itu telah dipenuhinya, ia kembali berdiri di ‘jembatan lengkung pangkal muara’ dulu dengan perasaan nihil. Rantau ternyata fatamorgana.

Tujuh belas tahun

mantra dalam dendang tua
tak sudah-sudah
mengusir
kemalangan
demi kemalangan
dan badan tetap begitu.

Disebabkan himpunan puisi ini ditulis dalam perantauan ulang-alik, maka isinya pun sering silih-berganti menceritakan kedua kota, kampung, dan rantau. Tercatat pula beberapa peristiwa di ibu kota, konflik bersenjata (mungkin sengketa agraria yang acap terjadi) dan Covid-19. Esha bercerita tentang pengalaman-pengalaman buruknya di sana.

Aku ingat padamu ….
tapi ledakan demi ledakan kini mengisi hari-hariku
terus membekap udara di liang jantungku
dan nasibku terasa kandas.

Rantau, nyatanya, lebih mencekam, alih-alih memberikan kehidupan yang dulu pernah diidamkan.

Kota dengan sirine ambulans berdengung tiap
sebentar membuat dada berisi asma dan rabu
basah terus bergetar.

Esha merasakan benar betapa keadaan ekonomi menjadi sulit ketika wabah menyebar. Ibu kota sangat terdampak. Di daerah, tidak begitu. Di Padang, tidak begitu. Ia menjadi pesimis memandang masa depan.

Dalam puisi tentang Cikini dan Gondangdia, ada potret berbeda yang disuguhkan Esha. Umum mengenalnya sebagai lirik lagu dangdut bernada ceria, menggambarkan perjalanan yang menyenangkan di antara dua tempat. Umum mengenalnya pula sebagai kawasan elit tempat pusat bisnis dan kantor-kantor pemerintahan berada. Akan tetapi, Esha memotretnya sebagai ‘satu kilometer penuh batuk’ disebabkan ‘debu gedung runtuh’, ‘asap pembakaran oli’, ‘jatuhan serbuk logam dari tiang listrik’, dan ‘uap buruk bandar sepanjang jalan’. Esha memotretnya sebagai tempat bagi ‘tukang parkir dengan pluit sumbing’, ‘tukang sate dengan bahu miring’, dan ‘kurir makanan dengan ragi jaket sudah serupa keramik pecah seribu merahasiakan bengek dan radang tenggorokan mereka’.

Di ibu kota, yang Esha temui adalah ‘bau daging sate hangus disabung debu rumah runtuh’, ‘air bekas cuci piring kedai nasi dibuang sembarangan’, ‘koplo dari pelantang portabel tukang parkir partikelir’, dan ‘derak sepeda tukang kopi keliling disudu sedan ke lubang bandar’. Mimpi Esha akan rantau yang menggiurkan sudah dingin dan basi. Ia menjadi lupa pernah menginginkan rantau, seperti ‘orang-orang lupa pernah mencintai Audrey Hepburn’ dan ‘poster The Unforgiven dingin sendiri di lorong tengah Metropole’.

Sementara itu, dalam puisi-puisi lainnya yang menyuguhkan Kota Padang, Esha selalu tenggelam dalam kenangan masa lalu, masa muda yang penuh gairah.

Aduhai, serasa kujangkau kembali kenangan pada jalan menikung itu
malam-malam dimana udara melulu mengirim garam
garam pada diam kota
garam pada retakan bata rumah lama
garam pada tiang serta atap tembaga
dan masa muda membara.

Meskipun demikian, Esha mengesankan pula dalam puisi-puisi nostalgia itu bahwa ada batas antara dirinya dan Padang yang dicinta. Batas itu telah ia buat sebelum masa perantauan tiba, bahwa tempatnya bukan di Padang nantinya, melainkan di tanah seberang. Telah tercamkan dulu di dalam hatinya bahwa Padang bukanlah hari depannya sehingga ia kini takbisa lagi kembali.

Ingin pulang, ingin pulang. Ke arah hari lalu
tapi ombak Padang ingatkan aku pada laknat
gairah masa muda dan hidup dibikin khianat.

Puisi-puisi Esha, seperti halnya puisi-puisi penyair dari Sumatra Barat, sangat kuat dengan nuansa lokalitas dan upaya penguatan identitas Minangkabau. Mereka berjuang dalam pertarungan wacana dan kuasa yang, di era siapa pun bisa berbicara apa pun ini, semakin terbuka. Satu hal yang menarik dari Esha dan yang membedakannya dengan beberapa penyair Sumatra Barat lain adalah genre Sastra Perjalanan-nya. Perjalanan ulang-alik itu membentuk perspektif tersendiri tentang kampung dan rantau. Perpindahan ruang, kata Carl Thompson, menyebabkan timbulnya negosiasi antara diri dengan liyan.

Esha, dalam puisi-puisinya di Hantu Padang, telah menuliskan subjektivitasnya. Itu terlihat dari bagaimana ia menggambarkan Jakarta dan Padang sebagai objek-objek dalam puisinya. Jakarta, bagi Esha, adalah kesulitan, ketidaknyamanan, ketimpangan, dan fatamorgana, sementara Padang adalah romantisme, kehangatan, kesetaraan, dan kenangan. Penggambaran ini, kata Norman Fairclough, terbentuk dari wacana-wacana yang mengitari dan memengaruhi seorang penulis. Esha mungkin terpengaruh oleh wacana dan nilai-nilai Minangkabau yang telah memasuki dirinya, secara sadar atau pun tidak, sedari belia di tepian sunyi Singkarak, yang telah memasuki dirinya lewat lirik-lirik gamad dan nyanyian klasik Minangkabau.

‘Hantu Padang’ dipilih sebagai judul agaknya disebabkan Esha adalah penyuka akut Padang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Frase ‘hantu Padang’, jika ditilik dari kacamata tata bahasa Indonesia, bisa dipahami sebagai makhluk-makhluk halus pengganggu yang dikenal dalam masyarakat Minangkabau. Sebutlah, misalnya bunian, si ampo, palasik, dan lain-lain. Akan tetapi, ‘hantu Padang’, jika dibaca menggunakan kacamata tata bahasa Minangkabau, akan dipahami sebagai pencinta, pencandu ‘Padang’. Hal ini bermakna setara dengan gelar-gelar yang sering digunakan orang Minang sehari-hari untuk individu yang sangat menggemari suatu hal: ‘hantu durian’ untuk orang-orang yang sangat menggilai kelezatan durian, ‘hantu diskusi’ bagi orang-orang yang sangat menyukai forum diskusi, dan ‘hantu-hantu’ lain sesuai dengan hal yang disukainya dengan sangat.

‘Hantu Padang’, dengan demikian, adalah diri Esha sendiri yang, dalam fase perjalanannya berpindah ruang kultural, telah mengesankan identitasnya sebagai anak Minangkabau. Namun, karena perpindahan ruang itu, terlebih ulang-alik, juga melahirkan negosiasi, maka Esha selalu menciptakan batas antara dirinya dengan liyan, dengan orang lain, dengan ruang di sekitarnya, baik itu Padang maupun Jakarta. Ketika hidup di kampung dulu, ia sangat berambisi merantau. Namun, ketika sudah di rantau, ia ingin kembali ke kampung. Atas dasar itu, Esha menutup himpunan sajaknya dengan:

Di atas meja kerjaku, masih seperti dulu, kubiarkan sajak
merantau-mengembara-melanglang buana jauh
menempuh jalan nasib
jalan tanpa karib.

(*)

Sehla Rizqa Ramadhona
Lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, 24 Januari 1996. Saat ini, ia terlibat dalam kegiatan kesusastraan Payakumbuh di bawah naungan Komunitas Seni Intro. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman pada 2018. Kemudian, pada 2019 melanjutkan studi di Magister Sastra Universitas Gadjah Mada dan lulus dua tahun kemudian. Telah menulis sejumlah karya ilmiah, di antaranya: “Analisis Tematik Lima Puisi pada Kumpulan Puisi Baromban Karya Iyut Fitra”, “Benturan Metafora dalam Yang Berdiam dalam Mikropon Karya Afrizal Malna sebagai Kritik terhadap Dunia Modern”, “Posisi Perempuan dalam Lembaga Pernikahan pada Novel Ginko Karya Watanabe Jun’ichi”, dan “A Discursive Strategy to Maintain The Cultural Islam-Political Islam Power Relation in Indonesia in Triwikromo’s “Lengtu Lengmua” (2012)”.

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca