Banjir Bandang Itu Sebentar tapi Dampaknya Sangat Besar

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Laporan Fatricia M.

SEDERET bencana alam melanda Sumatra Barat pada bulai Mei 2024. Salah satunya di Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Jorong Pagu-Pagu, Nagari Pandaisikek.

Bencana banjir bandang atau disebut galodo yang terjadi pada pukul 21.15 WIB merenggut 7 korban jiwa, 2 orang hilang, dan 2 orang lainnya luka-luka.

Bencana ini juga mengakibatkan 8 rumah warga hancur, 2 di antaranya hanyut terbawa arus.

Selama hampir satu setengah jam banjir bandang itu menyapu bersih Jorong Pagu-Pagu, Nagari Pandaisikek. Salah satu penghuni dari 8 rumah yang hancur bernama Ernita (56 tahun). Tempat tinggal Ernita kini hancur, barang-barang perabotannya ikut terbawa arus banjir bandang.

Rumah tetangganya rata dengan tanah, satu keluarga meninggal dunia.

Namun, Ernita masih sempat selamat karena dibangunkan oleh tetangganya, malam itu.

“Saya sudah sempat tidur dan dibangunkan oleh tetangga. Tetangga saya bilang kalau air sungai semakin deras dan lebih baik pindah,” ucap Ernita.

Banjir bandang yang terjadi bersumber dari Gunung Singgalang. Derasnya curah hujan mengakibatkan terbawanya material seperti tanah dan pepohonan akibat longsor.

“Hujan terjadi dari sore. Malamnya air sungai tiba-tiba besar, membawa tanah dan pepohonan karena di atas ada longsor,” ucap Meldi, salah seorang warga.

Pengakuan Meldi yang hampir menjadi korban bencana itu mencuri perhatian. Meldi yang sedang berada di warung saat kejadian hampir terbawa arus.

“Andai telat beberapa detik saya ke luar dari warung mungkin sudah tak tertolong,” kenang Meldi.

Anum, salah seorang warga memberikan kesaksian bahwa banjir bandang yang terjadi tidak lama namun arusnya begitu deras.

“Arusnya deras, airnya tinggi, namun sebentar karena airnya sudah mengalir langsung ke bawah,” ucap Anum. “Masjid ini juga terdampak, air yang masuk juga tinggi, dan rumah di sebelah ini juga,” tambah perempuan itu.

Sebanyak 8 rumah warga hancur dihantam banjir bandang. Salah satunya terdapat satu keluarga yang menjadi korban meninggal dunia.

Kondisi rumah warga yang terdampak terlihat rata, habis, dan hancur.

Namun, yang terdampak tidak begitu banyak, hanya sekitar 16 rumah, 8 rumah hancur, dan 8 lainnya terkena lumpur termasuk sebuah masjid.

Masjid yang terdampak tidak sedikitpun rusak, hanya lumpur yang masuk, dan beberapa gulungan karpet masjid yang hanyut.

“Tidak ada yang tahu bencana yang akan datang, sebaiknya kita selalu waspada dan menyiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi,” tambah Anum. (*)

Editor: Muhammad Subhan

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca