Air Mata Hatta di Ujung Pena Bertinta Emas

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

NOVA. Merupakan nama singkat dari Nova Z. El Yunussy, kelahiran Payakumbuh, 19 Juli 1982. Pegiat budaya dan literasi, guru seni dan bahasa SMP IT Ar-rahman, dan Guru SMA PKBM Kembang Delima. Ia juga merupakan Tenaga Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Air Mata Hatta di Ujung Pena Bertinta Emas

Pak Tuo, apa kabar?
lama kita tak berjumpa kecuali perjumpaan di dua malam itu
air matamu menetes pilu tertinggal di ujung pena bertinta emas
sedangkan pena itu masih berada dalam genggaman di tangan kananmu
aku tidak tahu apa makna perjumpaan di malam itu
sehingga, di malam berikutnya aku masih merasakan hal yang sama
namun, kali ini engkau memberikan kedua pena tersebut kepadaku
sedang aku masih saja merangkai kata
untuk mengungkapkan kalimat rindu
yang sempat tertahan beberapa tahun yang lalu.

aku gelisah,
melihat kedua pena bertinta emas tersebut telah berada di tanganku
engkau memanggil namaku halus dengan sebutan, Nak
mengajak aku untuk melihat apa yang engkau tunjuk
mata ini mengikuti kemana arah telunjukmu menunjuk
ya, ranah minang dan pusako tinggi.
apa yang telah terjadi pada ranah minang,
dan apa pula yang telah membuatmu begitu serius
mengatakan tentang pusako tinggi aku sungguh tidak paham
sampai pada saatnya ‘ku berjumpa dengan cicitmu
yang kala itu berkunjung ke kampungku, Payakumbuh
kuutarakan tentang perjumpaan kita
membuat ia lama termenung
dan mencoba mencari tahu siapa aku
dan bagaimana ini bisa terjalin.

Pak Tuo, apa kabar?
pada siapa aku akan sampaikan lagi tentang dua pena
yang masih tergenggam bila mata ini dipejamkan,
maka jelas betul silaunya kilauan emas yang terpancar keluar dari ujung pena itu.
apa maknanya,
serta himahnya sungguh aku masih belum tahu
kecuali duga sesaat menerjemahkan air mata
serta kedua pena itu tentang aku
harus merangkai bait-bait perjuangan
yang membicarakan tentang keadaan ranah minang,
tentang generasi bangsa yang enggan lagi
untuk mengatakan kata merdeka
dan tentang hak-hak padusi yang berada di rumah gadang.
yang jelas telunjukmu telah memberikan gambaran
bahwa aku harus melanjutkan perjuanganmu
melanjutkan tentang cinta pada negerimu
dan menghadiahkan ketulusan
berjuang secara jujur walau semua
yang kurasakan itu hanya lewat mimpi.

(Sumber: Majalah digital elipsis edisi 030/Tahun III/ November—Desember 2023)

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca