Adin Bondar: Ke Depan, Penghargaan Tertinggi NJDP Direncanakan Ditandatangani Presiden

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA, majalahelipsis.com—Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI, Dr. Adin Bondar, M.Si. menyampaikan bahwa di masa mendatang Perpusnas RI merencanakan penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka (NJDP) ditandatangani presiden.

“Kami mau memberikan reward kepada pustakawan melalui tunjangan fungsional yang lebih sejahtera, sementara khusus untuk reward bagi penggerak literasi diberikan Penghargaan Tertinggi Nugra Jasa Dharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI. Kami menggagas ke depan penghargaan tertinggi NJDP ditandatangai Bapak Presiden,” kata Adin Bondar saat menerima kunjungan silaturahmi Tokoh Literasi Nasional asal Sulawesi Selatan, Bachtiar Adnan Kusuma (BAK), Jumat (28/6/2024), di Perpustakaan Nasional RI, Jl. Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Kenapa NJDP disebut sebagai penghargaan tertinggi?

Adin Bondar menjelaskan, NJDP disebut penghargaan tertinggi karena adanya apresiasi pemerintah pusat kepada tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki konstribusi besar pada negara di bidang literasi.

Selain dilandasi atas mandatori Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pada pasal 49 pemerintah berkewajiban memberikan penghargaan kepada masyarakat yang telah mengabdi dan memberikan konstribusi pada peningkatan kegemaran membaca di Indonesia.

“Penghargaan tertinggi ini juga diberikan pada masyarakat sebagai bentuk keterlibatan pemerintah pusat memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat atas perannya ikut serta memajukan pembangunan ekosistem literasi di Indonesia,” tegas Adin Bondar.

Pustakawan Penyedia Akses Informasi

Di era teknologi informasi peran perpustakaan sebagai penyedia akses informasi mengalami transformasi yang signifikan. Kalau dulunya perpustakaan berupa tempat fisik di mana orang dapat mengakses buku dan referensi lainnya, namun di zaman sekarang perpustakaan tidak perlu lagi hadir di ruang-ruang fisik dengan adanya digital library.

Adin Bondar menguraikan bahwa pustakawan harus didorong dalam gerakan sosial nasional dengan memanfaatkan platform media sosial.

“Sekarang pustakawan sebagai profesional memiliki peranan yang sangat strategis terutama mencerdaskan masyarakat Indonesia. Karenanya, perpustakaan memiliki peranan yang lebih luas daripada profesi guru,” kata Adin Bondar.

Misalnya, kata Adin Bondar, peran perpustakaan bukan hanya mendorong masyarakat agar cerdas melalui jalur pendidikan formal, namun pustakawan juga memerhatikan kualitas masyarakat Indonesia melalui pendekatan non formal dengan prinsip pendidikan sepanjang hayat.

Dengan adanya hal-hal baru ini, bisa dinarasikan bahwa pustakawan Indonesia yang jumlahnya 5.588 orang tersebar di seluruh Indonesia memang harus didorong menjadi gerakan sosial nasional.

Gagasan Adin itu disambut baik Bachtiar Adnan Kusuma dengan antusias. Bachtiar Adnan Kusuma yang dikenal penulis yang telah melahirkan ratusan buku ini mendukung pemikiran Adin Bondar. Alasannya, kata BAK selain karena memang situasi perkembangan teknologi informasi telah mengubah gaya hidup manusia saat ini, juga termasuk style dalam mengakses buku dan perpustakaan.

“Idenya Mas Adin Bondar sangat cemerlang dan telah dieksplore luas dalam bukunya Literasi Berawal dari Diksi, Berakhir pada Aksi, bahwa gerakan literasi harus menjadi gerakan nasional,” kata BAK menimpali.

Adin Bondar menambahkan bahwa penting melibatkan platform media sosial dalam gerakan literasi nasional, selain jangkauannya lebih cepat dan luas, juga biayanya lebih murah.

Diketahui, instrumen media sosial penggunanya semakin berkembang banyak. Begitu pula dengan kanal YouTube dengan fitur podcast serta platform Instagram sehingga tidak perlu lagi menggunakan (air time) stasiun TV untuk melakukan branding program.

“Nah, harapan kita di perpustakaan itu termasuk taman bacaan, perpustakaan desa, dan komunitas baca oleh Dinas Perpustakaan Kabupaten Kota dan provinsi itu memanfaatkan medsos untuk mempromosikan. Karena betul-perlu ada branding dan cara meningkatkan branding harus di media sosial,” tegas Adin Bondar.

Bachtiar Adnan Kusuma sepakat dengan gagasan-gagasan Adin Bondar. Menurutnya, dengan kemajuan teknologi, konsep perpustakaan telah berkembang menjadi lebih luas. Kini, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan buku, tetapi juga sebagai pusat informasi digital yang menyediakan akses ke berbagai sumber informasi elektronik seperti e-book, jurnal online, database, dan sumberdaya digital lainnya. (aan/elipsis)

Editor: Muhammad Subhan

Untuk keterbacaan teks dan tampilan website majalahelipsis.com yang lebih baik, sila unduh aplikasi majalah elipsis di Google Play atau APP Store, tanpa memerlukan login. Kirim naskah ke majalah digital elipsis (ISSN 2797-2135) via email: majalahelipsis@gmail.com. Dapatkan bundel digital majalah elipsis (format PDF 100 halaman) dengan menghubungi redaksi di nomor WhatsApp 0856-3029-582. Ikuti laman media sosial Majalah Elipsis (Facebook) atau @majalahelipsis.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download versi aplikasi untuk kenyamanan membaca